Sabtu, 31 Desember 2016

#5 Mari Bercerita



Mari bercerita. Aku sedang ingin bercerita tentang kata ‘pertama’. Seperti saat pertama aku meresapi bau hujan, mendengar nada-nada bertautan, mengamati bentuk awan, atau pertama kali aku benar-benar menghayati warna senja. Aku masih mengingatnya, menyimpannya dengan rapi di sudut-sudut ruang kosong yang tersisa, di kolong-kolong tempat deadline harian tengah antre tertidur, di laci-laci yang belum sempat disusupi rutinitas, di tabung lubang gitar yang seharusnya kosong, juga kutitipkan pada udara yang menyusup di lubang seruling, di celah-celah rak buku atau bahkan di rongga busa sabun mandi.
Dan akhir-akhir ini aku merasa sesak. Tak ada lagi ruang kosong, semua celah tlah dihuni oleh kata ‘pertama’. Pernah aku bertanya, adakah pertama untuk kali kedua? Berkali-kali aku bertanya dan ‘tidak’ tetap menjadi jawabnya. Tidak ada pertama untuk kali kedua, ketiga, keempat; tidak ada pertama untuk kesekian kalinya. Lalu, betapa hujan, betapa awan, nada, dan senja pertama menjadi sesuatu yang begitu istimewa.  Itulah mengapa aku menyimpannya, sesekali merapikan jikalau ingatan tentang ‘pertama’ mulai menguar, sesekali mewarnanya jikalau memudar, lalu mulai menutup pintu-pintu keluar, menahannya agar tak ke mana-mana.
Akhir-akhir ini semakin sesak saja. Segala yang ‘pertama’ ada di mana-mana. Ada di udara saat aku menarik napas, ada di sela-sela buku yang kubaca, ada saat aku berkaca, ada saat aku membunyikan nada. Dan lalu, untuk apa? Untuk apa menjaganya tetap ada sementara sesaknya menyiksa? Maka sebelum tergelagap mati pengap, kubuka separo pintu, menyilakannya berlalu tanpa tergugu, pilu. Membebaskan mereka pergi bersama udara yang berganti.
Sore ini, kaca jendelaku diketok-ketok oleh rintik hujan yang deras sekejap lalu reda, menyisakan aromanya yang  khas saat awan mendung mulai digantikan arakan awan putih, sinar matahari menyembul di sela-selanya sekejap lalu tenggelam di antara awan yang mengguratkan warna-warna senja. Sekilas, semuanya nampak sama. Hujan, awan, senja.Tapi pertama kali aku menyesapi aroma hujan terasa berbeda. Tapi pernah aku mengamati bentuk awan dan tak serupa. Pernah aku menghayati guratan senja dengan komposisi warna yang berbeda.
Dan lalu, jika beda selalu ada, memang tidak akan ada pertama untuk kali kedua. Lalu jika beda selalu ada bukankah segala sesuatunya adalah yang pertama? Aku pernah melihat hujan dan bukan seperti ini. Pernah kusesapi aroma hujan tapi tak seperti ini. Pernah ku amati bentuk awan tapi tak seperti ini. Dan lalu, ‘seperti ini’ akan menjelma menjadi yang ‘pertama’. Sama seperti aku pernah jatuh hati tapi tak seperti ini. Sehingga jika beda selalu ada segala sesuatunya akan menjadi istimewa ataupun biasa saja. Tergantung memilih yang mana. Bukankah hidup memang sebuah pilihan.
Dan pilihanku jatuh pada istimewa. (luss)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar