Rabu, 20 Agustus 2014

Hujan dan Labirin

Hujan kedua di bulan Agustus ..
dan hujan pertama dalam perjalananku menapakkan kaki ini di kerajaan sastra..
I told you before that i would enjoy my climb and the views..
and here I am..
Terjebak dalam hutan kata - kata di kerajaan sastra..
Baru saja aku terdampar di sini tapi aku seperti telah lama melebur  dalam gelombangnya..
Kali ini aku ingin berbicara tentang takdir dan rahasia Tuhan ...
Tentang arus sungai yang telah Ia berikan pada setiap makhluknya..
dan kini aku berada dalam arus itu..

Aku setuju dengan seorang "Dee" dalam Madrenya ~Ingatan Tentang Kalian~
(cinta dan sahabat... sahabat dan cinta.. itulah jiwa yang terpecah dengan sederhana.. sisanya fana)

Aku sependapat dengan itu..
Seperti pemikiranku tentang jodoh..
Mungkin aku telah meninggalkan putih abu - abuku bersama cinta yang bersemayam di dalamnya..
Tapi aku masih membawa sebentuk perisai sebagai senjataku ...
Agar aku tidak kehilangan jati diri dalam cinta itu sendiri..
Agar aku tidak lagi mencari dan berenang melebihi arus hingga tenggelam..
Kali ini tidak..
Mungkin dulu mereka bersembunyi dalam rentang pencarianku..
Kemudian satu persatu muncul dan mungkin beberapa menyerah..
Tapi suatu saat nanti ada kalanya aku dan dia berserah dalam irama yang diberikan oleh cinta dalam setiap degup jantung yang berbeda tapi satu..
Kali ini aku seperti menemukannya...
Entahlah .. atau mungkin hanya persinggahan di perjalanan panjangku..
Segalanya masih begitu abstrak..
Tapi saat semuanya tak lagi abstrak, seperti nostalgia.. aku akan merasakannya ...
Hidup ini seperti permainan labirin di mana aku terlahir untuk menemukannya dan dia terlahir untuk menemukannku ...
Saat segalanya tidak lagi abstrak kata tidak lagi penting .. hanya rasa ..
Karna kita pernah bertemu .. tanpa nama dan rupa.. kemudian berpisah dalam rahim yang berbeda..selanjutnya terlahir dalam labirin kehidupan dan berakhir dengan kita..   

Hari ini.. melihatnya..aku terjebak bersama hujan dan keabstrakan.. Sudahlah..  aku hanya ingin mengalir mengikuti arus yang sudah diberikan oleh-Nya kepadaku.. percaya pada arus yang entah akan membawaku padanya atau tidak.. ~Cogond~


                                                                                                                                        ~Luss~
21:56
200814
Le Mercredi

Minggu, 10 Agustus 2014

Serve in The Rain

Hai kalian para pemuja hujan...
kali ini aku ingin membuat sedikit pengakuan dalam perjalananku memuja setiap butir air yang mengehempas setiap inci permukaan bumi... menyimpan tetesan memori tersendiri..
Aku sempat merasa menjadi seorang pengkhianat, sedikit berkhianat pada pengabdianku untuk rintik hujan.
Aku tidak mengerti tentang aku atau keadaan yang berubah..
Bukan aku membenci hujan .. aku masih memujanya seperti dulu .. hanya saja setahun ini aku memujanya tanpa ingin terbasahi..
Keadaan yang berbanding terbalik dengan aku yang masih mengenakan seragam putih merahku..
sangat berbanding terbalik dengan aku yang menunggu rintiknya menghempas tanah bersama seragam putih biruku..
Karna di tahun kedua aku mengenakan seragam putih abu - abuku aku mulai merasa berubah ...
entahlah, aku tidak bisa membedakan antara rasional dan berubah menjadi bukan diriku sendiri ...
Karna saat rintiknya kembali menerpa permukaan bumi aku mulai berpikir seratus kali untuk menari di bawahnya.. memikirkan nasib hari esok.. tugas.. seragam .. kesehatan.
Kemudian aku masih memuja hujan dalam diam tanpa menyentuhnya..
ada sebersit keinginan untuk kembali berdansa di bawahnya .. tapi entah itu keadaan atau pikiran rasionalku yang membiarkanku tetap bergeming..
Kemudian aku mulai memuja hujan dalam diam gelombang sajakku tanpa berani menari di bawahnya seperti dulu..
Ya, saat itu beginilah caraku memujanya, tidak lagi menari di bawahnya, hanya mengaguminyanya dalam diam, memandang butiran air bersama dengan gemericiknya..
merekamnya dalam setiap gelombang sajakku.. berpikir apakah aku akan semakin berubah..

Tapi hari ini, sepertinya hujan merindukanku sama seperti separuh diriku yang lain..
Sekali lagi, pikiran rasionalku membuatku berhenti pada emper sebuah toko untuk sekedar berlindung dari guyuran hujan.. tapi kemudian hanya enam menit berselang rintiknya semakin jarang kemudian hilang membuatku kembali mengendari sepeda motorku..
Tapi kali ini tanpa pertanda sang hujan datang menyerbu permukaan bumi dan aku, airnya mulai menyelimuti outer blue jeans ku..  ya kali ini aku sudah tak mengenakan seragam :')
Akhirnya, setelah sekian lama, aku kembali menari di bawah hujan
kembali aku bercengkrama langsung dengannya ... setiap satu rintiknya saat itu mewakili satu kisah lama..
Nostalgia, hal yang selalu hujan berikan dalam aroma basahnya.. Seutuhnya aku merasa menjadi diriku sendiri.. bersatu dalam derasnya.. bebas tanpa beban apa - apa ..
Setelah sekian lama menghindarinya ..

Kini aku mengetahui satu hal, bukan aku yang berubah menjadi orang lain..
tapi keadaan yang membuat semuanya berubah... mengubah pikiran masa bodoh..
waktu yang membuat aku merasa menjadi seperti seorang penghianat yang sebenarnya bukan...
Aku hanya mulai bertanggung jawab terhadap diriku sendiri.. dan aku tetap menjadi diriku sendiri.. aku menemukannya hari ini, di bawah guyuran hujan.. selanjutnya aku akan tetap seperti ini..
Sekarang aku tidak khawatir terhadap perubahan itu.. 
Hujan kali ini menunjukkan padaku bahwa yang aku perlukan hanyalah mengikuti apa yang aku mau tanpa kehilangan rasa tanggung jawab terhadap diriku sendiri.

ya pengabdianku pada hujan tidak akan mengurangi rasa tangung jawab itu.

Le Vendredi 8 Aout 2014                                                                                              ~Luss~


Jumat, 01 Agustus 2014

Kehidupan dari Perjalanan si 'BIMO'

Hai...
Selamat datang di bulan Agustus. Tigabelas hari lagi aku akan memulai petualanganku di dunia perkuliahan. Tapi sebelumnya, aku baru saja mengakhiri petualanganku tepat pada penghabisan bulan Juli.
pergi ke Pantai Bajul Mati, nama yang cukup mengerikan untuk sebuah pantai yang indah.
ya, kata orang - orang pantai itu indah.

Berangkatlah aku dan keluarga besarku pergi melancong ke sana dengan 'bimo' (mobil toyota hiace hijau yg cukup untuk mengangkut 15 orang) sebagai pengangkut setia kami. Seperti biasa papaku yang bertugas mengendalikannya. Hanya sepupuku satu - satunya orang yang pernah mengarungi medan ini sebelumnya. Ia pun sudah berkata bahwa medannya tidak akan terlalu berat untuk dilalui. Awal perjalanan cukup lancar dan menyenangkan walaupun 'bimo' sempat berhenti sejenak dengan mobil - mobil lain dan hawa panas macet mulai terasa. Pada menit keenampuluh setelah keberangkatan, 'bimo' pun mulai menapaki daerah pegunungan. Udaranya yang sejuk mulai terasa mengusir hawa panas kemacetan.

Udara pegunungan, aku selalu menyukai udara pegunungan hampir mirip seperti udara di musim penghujan. Dingin tapi tidak mencekam.

Setelah lama berjalan, medan yang sedari tadi dipertanyakan mulai terlihat. Gunung mulai menampakkan liarnya. Kali ini 'bimo' harus berjuang meliuk - liuk pada tanjakan panjang bersama empat belas orang termasuk aku di dalamnya. Alur yang harus kami ikuti begitu panjang dang sangat berkelok. Cacing - cacing di perutku mulai berada pada posisi tak nyaman. Aku tidak pernah menyangka sepanjang ini tanjakan yang akan kami tempuh. Begitu juga dengan 'bimo'. Sepertinya ia ngambek atau mungkin terlalu lelah aku tidak tahu pasti. Tepat selesai tanjakan panjang yang pertama 'bimo' diam. Sedangkan lima belas langkah di belakang kami adalah jalanan turun dengan jurang di kanan - kirinya. Rasanya aku ingin segera meloncat ke luar mobil saat itu juga. Selama sepuluh menit itu aku hanya terus memohon keselamatan dan kelancaran kami sedangkan papa berusaha membujuk 'bimo' sambil mengotak - atik sedikit mesinnya. Setelah sepuluh menit yang cukup menegangkan, 'bimo' pun akhirnya kembali menapaki lika - liku yang telah dipersiapkan sang gunung.. Sampai akhirnya kami berada pada sebuah persimpangan (limakilometer ke arah sendang biru - masih ada berkilo - kilometer menuju Pantai Bajul Mati- dan Pantai Tamban 2,5 km). Mempertimbangkan keselamatan 'bimo' yang berarti keselamatan kita juga akhirnya papa pun membawa 'bimo' menuju Pantai Tamban. Lagi pula jarum jam sudah tertidur dalam dekapan angka satu dan matahari sedari tadi mulai memanggang 'si bimo' beserta isinya.
Memasuki daerah wisata Pantai Tamban rasanya cukup asing, melewati perkampungan sepi, hanya ada beberapa sepedah motor dan satu mobil yang berlawanan arah dengan kami. Sedikit sanksi juga. Tapi, hanya dalam hitungan menit aku mulai bisa mendengar desiran ombak, salah satu nyanyian alam terindah setelah gemerisik hujan. Keraguanku terjawab setelah biru laut dan pegunungan hijau yang mengitarinya tertangkap di kamera mataku. Aku tidak merasakan panas yang menyengat di sini, udaranya cukup hangat bahkan angin laut siang itu lama - kelamaan membuatku merasa sejuk. Tidak ada kata panas untuk pantai ini dan yang terpenting not crowded adalah hal terlangka dan termahal yang bisa didapatkan pada musim liburan seperti ini.
Perjalanan pulang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku bisa melihat keindahan lukisan pegunungan ini, jurang yang tadi terasa mencekam sekarang terasa begitu indah, goa - goa terpajang dengan angkuhnya di sebelah kiri jalan dan matahari mulai mewarnai langit dengan warna senjanya. Aku bersyukur kali ini 'bimo' membawa kami meniti turunan panjang dengan lancar. Mungkin dia telah mengetahui medan yang ditempuhnya atau mungkin dia sudah sehat kembali setelah menikmati semilir angin Pantai Tamban, entahlah tapi yang jelas kali ini 'bimo' sedang tersenyum sumringah mengemban kewajibannya membawa kami pulang dengan selamat. Seperti aku, 'bimo'pasti mulai menikmati indahnya pemandangan alam.

Petualanganku kali ini memberikan aku sebuah pelajaran hidup. Perjalananku bersama 'bimo' meniti gunung seperti perjalanan manusia meniti puncak kesuksesan. Panjang, berat, dan berliku - liku. Terkadang konsentrasi kita dalam menaklukkan medan berat itu membuat kita lupa untuk menikmati anugerah di setiap perjalanannya. Seperti si 'bimo' di awal perjalanan mungkin ia lupa untuk sekedar menengok, menikmati pemandangan indah yang akan membuat perjalanan terasa lebih santai dan menyenangkan.
Kesuksesan seseorang juga tidak bisa diukur dengan seberapa banyak ia mampu mengarungi medan seperti yang lainnya melainkan tentang kebijaksanaan, kecerdasan , meredam ego, dan bersyukur. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya 'bimo' jika kami tetap memaksanya menuju Pantai Bajul Mati. Mungkin kami baru akan sampai ke sana pukul 3 sore dan aku tidak akan bisa menikmati kesunyian pantai seutuhnya seperti di sini. Bahkan mungkin aku tidak akan pernah bisa sampai ke sana. who knows.
Yang jelas aku bersyukur tentang kebijaksanaan pikiran yang membawa aku, 'bimo' dan keluarga besarku menikmati ketenangan Pantai Tamban...

Teringat kata Hannah : "Life is a climb but the view is great" - Hannah Montana
Pengalaman ini akan menjadi peganganku tiga belas hari mendatang sebagai mahasiswa baru. Mungkin aku memang tidak tahu dengan pasti medan apa yang aku tempuh, hanya mendengarnya dari cerita orang -orang. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan lupa menemukan anugerah keindahan di setiap perjalananku nanti.
                                                                                                                      

                                                                                                                                       ~Luss~