Kamis, 25 September 2014

Diamond



Hari ini, aku menyadari banyak hal.. 
Menyadari bahwa aliran sungai ini telah sampai pada sebuah samudera dan aku telah jauh tenggelam dalam gelombangnya. Di dasar samudera ini, aku menemukan sebuah berlian. Aku telah mengamatinya dari radius ini. Jarak pandang terbaik untuk melihat keindahannya. 
......
Aku mengamatinya setiap hari, semakin hari semakin tercengang dengan perubahan warnanya. Tapi ada satu warna yang membuatku berhenti di satu tempat untuk waktu yang lama, satu warna yang membuatku menjatuhkan mata ini tepat pada satu titik. Merah.. Entah sudah berapa lama aku berhenti di sini dan sudah berapa kali gelombang ombak menerpa. Satu hal yang pasti, aku sedang tidak ingin berpindah tempat karena tepat di titik ini, aku bisa menangkap bias warna merah berkilauan dengan secercah warna pelangi di sekitarnnya.
......
Hari ini, sapuan gelombang laut begitu kuat, mampu menggeser pandanganku  menuju seseorang di ujung sana. Dia tengah melakukan hal yang sama. Diam – diam mencari kilau berlian untuk sekedar dikagumi, mencari tempat terbaik untuk melihat kilau indahnya dan membuat satu garis lurus di antaranya. Ah biarlah, aku pun kembali ke rutinitasku, kembali dalam jarak pandangku, mengamati bias merah yang kini tengah menjadi caffein bagiku.
.....
Lagi – lagi, gelombang laut membuat pandanganku bergeser pada seseorang itu. Kali ini, aku terkesiap menyadari satu hal. Aku bilang berlian itu merah dan itu indah. Dia berteriak bahwa berlian itu berwarna hijau dan itu indah.  Tercengang, aku menertawakan diriku sendiri yang tengah terduduk di satu tempat, bertahan dari terpaan gelombang samudera agar radius ini tidak berubah, agar aku tetap bisa mendapatkan merah. Sedang seseorang di sana, bertahan dalam jarak pandangnya, membuat garis lurus pada biasan hijau yang menurutnya indah. 
.....
Aku mulai bangkit perlahan, mengikuti gelombang ombak ini. Mataku sudah lelah terfokus pada satu titik. Merah yang telah menjadi caffein bagiku, aku tidak ingin merubahnya menjadi morphin yang akan mematikan seluruh kesadaranku, melumpuhkan syaraf motorikku dan menjebakku di titik ini. Perlahan, aku berjalan mengikuti gelombang air laut.  Berlian itu masih di sana dengan bias – bias kilaunya. Seseorang di ujung sana telah menyadarkanku tentang sebuah konsep keindahan. Keindahan yang hanya bisa dipandang dari radius tertentu bukan untuk digenggam. 
.....
Aku kembali berjalan, di samping seseorang itu aku melihat berlian dengan bias cahaya hijaunya. Dia mengatakan padaku bahwa hijau ini indah. Aku hanya tersenyum, kembali berjalan mengikuti gelombang ini. Mungkin di ujung yang lain, ada banyak orang yang tengah mengaguminya dengan bias warna yang berbeda. Karna itu adalah berlian. 
....
Aku sudah terlalu lama menatap pada satu titik dan aku mulai mengedarkan pandanganku, mencoba mencari bentuk keindahan yang lain tapi kini dengan cara pandang yang baru.
Seseorang di ujung sana menyadarkanku bahwa terkadang kita menemukan sebuah persamaan dari sudut pandang yang berbeda. Membuat sebuah kesimpulan yang sama dari daftar chekclist yang sama sekali berbeda.

                                                                                                                                    ~Luss~
Le Lundi
22 September 2014

Minggu, 14 September 2014

Cocoon

Hav you ever feel when the moving area right in front of you ?..
When everything start changing and going worst..
All never be the same when one of your family can't breathe anymore..
It was my grandad..
Satu batu - bata yang terlepas tapi mampu menggoyahkan sebuah bangunan yang kelihatannya kokoh..

Martin said: "My father-in-law Bruce Paltrow bought this big keyboard just before he died. No one had ever plugged it in. I plugged it in, and there was this incredible sound I'd never heard before. All these songs poured out from this one sound. Something has to inspire you, and something else takes over. It's very cloudy." Martin also noted that the song is "probably the most important song we've ever written". (Cold Play - Fix You)

Seperti Martin mungkin aku akan merasakannya. Tidak ada yang mau meninggalkan zona nyaman, Meninggalkan tempat di mana aku biasa bersarang dan memetaskan telur - telur imajinasiku. Meninggalkan kebiasaan dan segala macam metamorfosis selama kurang lebih delapan belas tahun. Delapan belas tahun dalam sarang kepompong.. Bahkan kali ini, aku tidak ingin berpikir apakah aku sudah cukup menjadi kupu - kupu untuk meninggalkan kepompong itu. Segalanya begitu mendadak, so many things i want to do in my cocoon before i move into my grandma's house.
 
Moving to my grandma's house still a plan. I don't know wether it will be or not. I don't even know which one is the best and not. But jut thinking about it make me sad.

Tapi, kenapa aku tidak mencobanya.. mungkin saja aku akan menemukan 'song' ku di sini seperti Martin yang menemukan keajaiban ketika ia memulai untuk mem-plugged keyboard peninggalan itu.
Though it's hard to leave my beloved cocoon :')
                                                                                                                                             ~Luss~