Jumat, 30 Desember 2016

#1 Mari Bercerita




Mari bercerita. Tentang apa pun itu.
Karena cerita-cerita yang tertutur selalu menjembatani aku dan kamu.
Mari bercerita. Ditemani angin yang diam-diam tergugu pilu.
Karena, ah bahkan menuliskannya pun aku tak sanggup.
Mari bercerita. Banyak sekali kisah yang tertunda dengan sengaja.
Kenapa? Ah bahkan memaparkannya pun aku tak kuasa.
Mari bercerita.
Karena bagaimana jika esok?
Jika lusa? Jika entah
Aku tak bisa lagi bercerita

Kau tahu, Tuan?
Kini aku tengah menoleh dan menuturkan cerita pada semesta kecil yang pernah kuhuni ratusan lalu.
Kembali, aku mengunjungi setelah lama terabai.
Tuan tahu? Dugaanku benar. Tiada yang berubah.
Saat tirai usangnya kusibak, milyaran cahaya keajaiban kembali menari-menari menyesaki ruang.
Seandainya sekali saja, kau tolehkan kepalamu wahai Tuan, kau pasti jelas mampu melihatnya.
Karena aku mengenal matamu yang tak butuh waktu lama untuk lalu sanggup menghayati.
Tapi Tuan terus berjalan menengadah, menghentikan kakimu di depan pintu pun tiada pernah.
Tak apa Tuan. Tidaklah masalah jika Tuan tidak datang berkunjung.
Hanya saja, sudilah melirik sejenak pada milyaran cahaya yang jelas menari-nari indah.
Agar Tuan tahu tanpa susah payah aku bertutur.
Betapa terkesimanya aku pada semua. Selalu, meski semua tlah lama berlalu.

Tuan, mari bercerita.
Aku merasa sangat dekat dengan para pecinta.
Ada keikhlasan di balik amarahya. Ada ketulusan di sinar-sinar matanya.
Sebuah konsep klasik memberi tanpa meminta.
Wahai Tuan,
Aku tidak butuh seluruh dunia ini percaya
bahwa ini benar adanya.
Ketahuliah,
aku tidak pernah meminta dan juga tidak pernah memilih.
Untuk pertama kalinya, aku terjatuh begitu saja.

Dan sudilah kiranya Tuan menjawab,
Adakah pertama untuk kedua kalinya?

Mari bercerita.
Karena. Aku tidak tahu.
Apakah esok?
Apakah lusa? Apakah entah
Masihkah bisa aku bercerita. (Luss)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar