Sabtu, 29 Agustus 2015

Gelembung Sabun


            Hai.
            Aku pernah berkata bahwa kehidupan ini layaknya siklus air. Tidak boleh diam. Harus begerak, terjatuh, mengalir meninggalkan puncak tertinggi dengan segala atmosfer kesejukannya, mencari celah menuju satu tujuan. Lautan. Lalu bersedia terpanggang untuk pada akhirnya kembali menjadi awan, kembali terjatuh, mengalir di tempat dan kodisi yang berbeda. Entah sama sekali berbeda atau hanya sepersatu, seperdua, tiga, empat. Yang jelas siklus itu abadi tapi satu butiran air tidak akan pernah menyentuh segumpal tanah yang sama. 
            Dan baru saja aku menyelesaikan satu dari milyaran yang ada. Batuan terjal telah aku kikis habis. Mengalir di sungai beratapkan ribuan bintang. Menghayati biasan sinar mentari di telaga pagi hari. Setiap momen telah aku resapi.
            Baru saja aku menyelesaikan siklus yang telah menciptakan satu buah warna - warni gelembung sabun. Begitu indah. Terlihat jelas, nyata tapi terlalu rapuh saat disentuh. Tidak ada kata perpisahan atau perayaan seperti tidak ada yang berakhir dan tidak ada pencapaian yang harus dirayakan.
            Satu siklus baru telah resmi dimulai. Aku merasakan itu. Aku pergi untuk terjatuh lagi. Mengalir lagi. Inginnya aku permisi. Berbasa - basi untuk sekedar menahan waktu agar jangan cepat - cepat berlalu menuju siklus yang baru. Nyatanya kini aku berlari menyejajari waktu sambil diam - diam mengucap salam perpisahan dalam hati. Sendiri.
            Mendadak semua jalan terlihat sama saja. Semua sungai, parit, dan gorong - gorong menjadi biasa saja. Tidak ada bintang malam, biasan mentari pagi. Mendadak aku sadar bahwa satu hal yang membuat semua menjadi luar biasa tidak lagi ada. Mendadak aku tahu mengapa aku begitu ingin menahan waktu. Meski harus, aku hanya tidak ingin berpisah dengan itu. Meski ingin, aku tidak akan pernah bisa menyentuh gelembung sabun itu.


            Itu hanya gelembung sabun bukan kristal yang bisa disentuh dan disimpan

 -Luss

http://upilkeren.blogspot.com/2011/07/amazing-proses-pecahnya-gelembung-sabun.html

Minggu, 09 Agustus 2015

Lubang Kelinci



Hai

Selamat hari Minggu ke dua di bulan Agustus. Entah, aku tidak tahu alasannya kenapa aku sangat menantikan bulan ini. Dan benar saja. Ada banyak lubang kelinci yang akan membawaku ke dunianya masing - masing. Rasanya, ingin sekali aku memasuki lubang - lubang kelinci itu satu persatu. Menggali semakin jauh ke dalam. Menyusuri setiap negeri bawah tanah. Sendiri, aku tidak masalah. Namun, satu kalimat yang selalu muncul di kepalaku

'Apa Aku Bisa?'

Ingin aku cepat - cepat membuang kata apa dan tanda tanya. Menyisakan satu buah kata

'Aku Bisa'

Seandainya saja aku tahu satu buah lubang yang mampu menghubungkan seluruh negeri dongeng di bawah tanah itu. Seandainya aku tahu satu pintu yang harus aku ketok lebih dulu. Iya. Seandainya begitu.

Minggu, 02 Agustus 2015

Habis


Perlahan aku kikis. dan kini habis.
Mau apa lagi ? Kita kehabisan waktu.



bukan, kita. Aku yang kehabisan waktu.





bukan, kehabisan waktu.
Ternyata aku yang tak pernah menjadi pemilik waktu. Kamu. dan Hatimu

Mati – matian aku bangkit. Ngesot. Tertatih. Sempoyongan.
Dan sampai pada akhirnya aku bisa terbang, aku malah mencari – cari pijakan.
Mencari cara untuk kembali lumpuh. Tanpa bisa lagi pergi menjauh.

 (dua agustus dini hari)