Inderanya sudah tumpul. Sejak sunset di pantai Kuta dua hari lalu, ia sudah tidak mau
mengaktifkan apa – apa. Jika ada yang berusaha mengaktifkan pasti tidak akan
pernah sama lagi.
Lelaki itu terduduk di hamparan
pasir putih sambil menekuk lututnya. Ia mulai menggoreskan kuasnya pada lembaran
– lembaran kanvas kosong, mengekspresikan rasa dalam goresan – goresan yang
jauh dari kata simetris. Namun, ada yang berbeda. Kali ini tidak ada yang
tercipta, kalaupun ada itu hanyalah goresan – goresan cat tanpa makna. Goresan
– goresan tak berguna yang tak sanggup memuaskan batinnya seperti biasa.
Entah harus dengan cara apa lelaki
itu mengembalikan kepekaan inderanya, mengaktifkan kembali intuisinya. Untuk
saat ini lelaki itu sudah terlalu tumpul, bisikan angin yang dulu sesekali
menyiulkan lagu – lagu rindu yang kemudian akan menjelma dalam goresan –
goresan di kanvas tak lagi sanggup ia dengar. Bahkan jika kali ini angin
mengirimkan laskarnya dalam apa yang disebut – sebut s ebagai topan dan badai.
Ia tidak akan bisa merasa.
Lelaki itu berdiri, enggan membawa
kanvas kosong dan beberapa peralatan catnya. Butiran – butiran pasir yang
menempel pada celana oblongnya beberapa terjatuh seiring ia berlari menuju
batas pantai. Ia menghadap matahari yang masih asyik memanggang semesta. Berada
di ketinggian jauh di atas batas cakrawala, mungkinkah matahari belum
merindukan laut atau mungkin rasa rindu itu malah telah luntur hingga tak lagi ada rasa ketika perjumpaan
sejatinya hanyalah rutinitas yang telah dijanjikan semesta. Tentang matahari
dan laut yang bersua di batas cakrawala dan menyuguhkan senja.
Lelaki itu berjalan di batas terluar
ombak. Sinar matahari hanya sanggup menerpa sebagian kiri wajahnya dan rambut
hitam ikal sebahu yang sesekali menjuntai ke dahinya. Kakinya terus melangkah
menjejak pasir dengan susah payah. Ia merasa penat dan mungkin itu satu –
satunya rasa yang masih bisa dirasakan oleh inderanya. Ia pun berbalik menjauh
dari laut dan berjalan membelakangi matahari. Tak peduli jika matahari ingin sekedar
bersua dengan wajahnya bukan siluetnya yang meninggi setia mengiringi jejak
langkahnya.
Lelaki itu tak lagi menjejak pasir
pantai, bahkan gemuruh ombaknya tak lagi terdengar. Kali ini ia berdiri di
depan Gapura Candi Bentar, rumah adat bali dengan gapura di pintu masuknya, berlatar
luas dengan sebuah pohon kamboja besar menaungi meja dan kursi marmer.
Lelaki itu ingin segera
berisitirahat di kamar dan tertidur. Ia sekaligus ingin me-nonaktifkan semua sistem syarafnya yang memang telah tumpul ketika
matanya tertuju pada 1banding
wheel milik pamannya yang masih basah oleh air dan sisa – sisa coklat
lempung. Di baskom sebelahnya, segumpal lempung tergeletak begitu saja. Warna
coklatnya yang merata menandakan bahwa lempung tersebut telah melewati proses 2kneading dan 3wedging siap untuk dicetak. Lelaki itu
menguncir rambut gondrongnya yang beberapa masih terjuntai, mengedarkan matanya
ke sekitar untuk mencari pemilik alat yang saat ini begitu ingin ia sentuh.
Tapi nihil, hanya bunga putih kamboja yang sesekali gugur tertiup angin. Angin
yang kali ini meniupkan hawa panas sedang awan gelap mulai menyelimuti langit
siang itu, mengisyaratkan kedatangan hujan pada pertengahan bulan Mei.
Lempung itu telah berpindah tempat
ke atas banding wheel. Tangan lelaki itu
mulai memijit – mijit bagian tengah lempung. Gelang tali yang membentuk braid di tangan kanannya mulai belepotan
oleh tanah basah. Kaos putihnya tak lagi berupa putih polos melainkan berubah
seperti kaos dengan ornamen goresan cat coklat tak beraturan. Rambutnya
beberapa menjuntai keluar dari kuncirnya dan gerah membuat peluhnya mengalir di
pelipis dan berhenti di cambang tipisnya. Lelaki itu bukanlah seorang pengrajin
gerabah. Ia adalah seniman lukis yang bebas tak terikat oleh bentuk dan wujud
tiga dimensi. Namun, Ia tidak mengerti mengapa momen ini begitu berarti
untuknya. Entah mengapa ia mau mengais – ngais sisa kekuatan indera terakhir
untuk membuat karya ini. Sejenak mengaktifkan kembali intuisinya dan berkata
bahwa batinnya akan menemui titik kepuasannya, seakan ia tahu bagaimana
memperlakukan intuisinya yang koma.
Tanpa bersuara lelaki itu terus
memijat dan memilin hingga gundukan tanah lempung berubah menjadi cangkir
mungil di atas banding wheel. Ada
rasa puas yang tak terbendung di sana tapi tak sedikitpun bibirnya tertarik untuk sekedar menyunggingkan senyum
atau matanya yang menyipit untuk melengkapi tawa. Intuisinya kembali akut,
inderanya mati tak sanggup lagi merasa. Lelaki itu bangkit dan mengangin-
anginkan cangkirnya pada meja beton di bawah pohon kamboja kemudian duduk di
teras. Memandanginya dalam diam dari jarak 6 meter semakin membuat cangkir itu terlihat
kecil di antara pohon kamboja, meja marmer dan benda lainnya.
Awan mendung mulai menepati janjinya
untuk menghadirkan butiran hujan yang mulai turun satu – satu, dua – dua, tiga
– tiga, empat – empat, lima – lima, tak terhingga. Lelaki itu bergeming
memandangi cangkirnya yang perlahan mulai terisi butiran – butiran air hujan.
Ada perasaan hangat saat cangkir itu penuh oleh bening hujan dan hangat itu mendadak
hilang tanpa berubah menjadi panas ataupun mereda menjadi dingin melihat air
hujan yang mulai meluap dari cangkirnya. Guyuran hujan yang semakin deras
menggerus cangkir yang belum sepenuhnya kering. Cangkirnya amblas terbilas sedang
hujan hanya bertugas untuk terjatuh lantas menguap begitu saja.
Lelaki itu tetap bergeming sampai
hujan kembali turun lima – lima, empat – empat, tiga –tiga, dua – dua, satu –
satu, tak bersisa. Ia kini tersenyum menyadari kepicikannya yang membuatnya terfokus
pada sebuah wadah mungil. Terlalu gegabah untuk menadahi hujan pada wadah yang
masih setengah basah. Bahkan terlalu bodoh untuk sekedar ingin menyimpan
seluruh hujan dalam cangkir mungilnya dan terlalu egois untuk tidak membaginya
dengan semesta.
Lelaki itu bangkit masuk ke dalam
kamar membiarkan sisa – sisa lempung di meja marmer yang pernah sejenak menjadi
cangkir. Ia tahu bahwa ia hanya salah wadah. Toh nanti dia bisa berganti wadah.
Meski untuk menampung seluruh butiran hujan di semesta ini tidaklah mudah. Kini lelaki itu benar – benar ingin tertidur,
benar – benar ingin me-nonaktifkan intuisi
dan inderanya. Menutup telinga dari bisikan rindu angin, menutup mata dari
biasan cahaya. Menutup intuisinya dari satu buah nama yang terus menggema di
sudut – sudut ruang hatinya. Menggambarkan siluet perempuan yang sanggup
menjelma menjadi matahari untuk haus gelombang lautnya yang selalu menanti
senja di batas tepi cakrawala. Kemudian menganggap pertemuan itu magis dan
sakral sedang matahari tak punya rasa karna singgah di perbatasan cakrawala
adalah rutinitas yang dihadirkan semesta. Dialah perempuan yang sanggup
menjelma menjadi hujan dalam kemarau panjangnya. Terlalu naif untuk sekedar
ingin menyimpannya dalam sebuah cangkir mungil.
Lelaki itu terlelap jauh dalam alam
bawah sadarnya dan melukis segala rasa yang ada sebelum akhirnya ia binasakan
begitu saja. Menumpulkan segala bentuk intuisinya untuk berada pada senja esok
harinya.
-------
ii --------
Lelaki itu membawa juntaian rambutnya
ke belakang dengan jemari tangannya. Membiarkan sisanya di acak – acak oleh
angin laut. Ia kembali terduduk di pasir, memandangi kanvas yang tak lagi
kosong. Ada goresan warna orange, biru, dan coklat tanpa wujud yang realis tapi
setidaknya batinnya puas.
Langkah kecil perempuan berhenti
tepat di sebelahnya dan menarik sang pemilik untuk terduduk mengikuti gaya
gravitasi. Perempuan itu menyapa seperti biasa, memotret orange yang sama
setiap harinya dengan kamera yang tak pernah lepas menggantung di lehernya.
Topi bundar perempuan itu tiba – tiba terbang oleh angin yang sepertinya
terlalu bersemangat menyapa. Perempuan itu tertawa sambil terburu – buru memotret
lukisan lelaki di sebelahnya kemudian menyentuh kertas yang terselip pada bingkai
kanvas. Segera ia membaca sajak yang pertama kali menemani lukisan lelaki yang
masih diam menikmati orange yang disuguhkan senja kala itu.
“Akulah lautan yang
menunggu dan mengagungkan kedatangan senja. Satu waktu di mana laut dan
matahari sama – sama berada pada batas cakrawala. Sementara kamu adalah
matahari yang selalu bersinar tanpa rasa apa – apa karena bagimu senja hanyalah
pertemuan, sebuah rutinitas yang dijanjikan oleh semesta. Menginginkanmu sama
saja dengan membunuh pagi dan menyekap malam sisanya hanya menyuguhkan senja
pada semesta selamanya”
Perempuan itu tertawa, bukan kepada
sajaknya. Ia menertawakan lelaki yang telah membuat sajak itu. Seperti melihat
singa yang berusaha keras menjadi seekor kucing anggora. Setahun sudah
perempuan itu menjadi kolektor lukisan abstraknya baru kali ini barisan sajak
muncul dari keabstrakan partner kerjanya. Perempuan itu semakin tertawa, lepas
tanpa beban apa – apa. Tanpa rasa. (Luss)
1banding wheel : meja putar dalam
proses pembuatan keramik dari tanah liat
2kneading : proses pengulian,
menekan – nekan tanah liat agar tingkat keplastisan dan homogenitas merata
serta bebas dari gelembung udara.
3wedging: proses pengirisan tanah
yang bertujuan untuk mencampur satu macam tanah atau lebih yg berbeda warna,
jenis, dan plastisitasnya.