Jumat, 27 November 2015

Sekeping Koin






Tidak bisakah aku menggenggam satu sisi saja ? Ha ?
Sesederhana menggenggam koin. Kehilangan semua atau memiliki keduanya.
Tidak pernah ada pilihan untuk memilih satu sisi saja.
Dan, lalu.... Bersumpah! Aku tidak lagi meminta.
Bersumpah! Aku telah menjatuhkannya.
Kosong. Tangan ini kosong.
Bersumpah! Aku menahan langkah bahkan berjalan mundur.
Sepi. Pesta perpisahan dalam hati.
Hei ! Adakah yang tahu detail ini ?
Angin membisikkan dentingan koin.
Seolah upaya mendekatkan jarak yang baru saja merenggang
Jugalah Angin, seenaknya menghadirkan kembali sekeping koin.
Bersumpah! Aku menahan langkah.
Dan, segala sesuatunya mendadak terasa salah.
Tangan – tangan angin membolak – balikkan sekeping koin.
Kembali, aku rindu bermain – main.
Dalam gamang, berbisik aku kepada angin.
Silahkan, bawa pergi saja dia jika aku tidak bisa memiliki seutuhnya.


                                                                                                                                     -Luss-

Sabtu, 17 Oktober 2015

Kupas kupas kupas



Kupas .....  kupas ...... ku ...... passs ...
kupas apel
sampai habisss......
.....ada biji.

Belah saja langsung, ada biji.
Tapi kupas saja.
kupas kulitnya, kupas dagingnya.
Tebal. Lama.
lalu temukan bijinya
lebih lama, ada cerita.
pilihan bodoh juga
susah berlama – lama wong ada yang patas.
tak tahu mana yang benar
harus membelah atau mengupas.

 Luss
171015 dini hari

Sabtu, 29 Agustus 2015

Gelembung Sabun


            Hai.
            Aku pernah berkata bahwa kehidupan ini layaknya siklus air. Tidak boleh diam. Harus begerak, terjatuh, mengalir meninggalkan puncak tertinggi dengan segala atmosfer kesejukannya, mencari celah menuju satu tujuan. Lautan. Lalu bersedia terpanggang untuk pada akhirnya kembali menjadi awan, kembali terjatuh, mengalir di tempat dan kodisi yang berbeda. Entah sama sekali berbeda atau hanya sepersatu, seperdua, tiga, empat. Yang jelas siklus itu abadi tapi satu butiran air tidak akan pernah menyentuh segumpal tanah yang sama. 
            Dan baru saja aku menyelesaikan satu dari milyaran yang ada. Batuan terjal telah aku kikis habis. Mengalir di sungai beratapkan ribuan bintang. Menghayati biasan sinar mentari di telaga pagi hari. Setiap momen telah aku resapi.
            Baru saja aku menyelesaikan siklus yang telah menciptakan satu buah warna - warni gelembung sabun. Begitu indah. Terlihat jelas, nyata tapi terlalu rapuh saat disentuh. Tidak ada kata perpisahan atau perayaan seperti tidak ada yang berakhir dan tidak ada pencapaian yang harus dirayakan.
            Satu siklus baru telah resmi dimulai. Aku merasakan itu. Aku pergi untuk terjatuh lagi. Mengalir lagi. Inginnya aku permisi. Berbasa - basi untuk sekedar menahan waktu agar jangan cepat - cepat berlalu menuju siklus yang baru. Nyatanya kini aku berlari menyejajari waktu sambil diam - diam mengucap salam perpisahan dalam hati. Sendiri.
            Mendadak semua jalan terlihat sama saja. Semua sungai, parit, dan gorong - gorong menjadi biasa saja. Tidak ada bintang malam, biasan mentari pagi. Mendadak aku sadar bahwa satu hal yang membuat semua menjadi luar biasa tidak lagi ada. Mendadak aku tahu mengapa aku begitu ingin menahan waktu. Meski harus, aku hanya tidak ingin berpisah dengan itu. Meski ingin, aku tidak akan pernah bisa menyentuh gelembung sabun itu.


            Itu hanya gelembung sabun bukan kristal yang bisa disentuh dan disimpan

 -Luss

http://upilkeren.blogspot.com/2011/07/amazing-proses-pecahnya-gelembung-sabun.html

Minggu, 09 Agustus 2015

Lubang Kelinci



Hai

Selamat hari Minggu ke dua di bulan Agustus. Entah, aku tidak tahu alasannya kenapa aku sangat menantikan bulan ini. Dan benar saja. Ada banyak lubang kelinci yang akan membawaku ke dunianya masing - masing. Rasanya, ingin sekali aku memasuki lubang - lubang kelinci itu satu persatu. Menggali semakin jauh ke dalam. Menyusuri setiap negeri bawah tanah. Sendiri, aku tidak masalah. Namun, satu kalimat yang selalu muncul di kepalaku

'Apa Aku Bisa?'

Ingin aku cepat - cepat membuang kata apa dan tanda tanya. Menyisakan satu buah kata

'Aku Bisa'

Seandainya saja aku tahu satu buah lubang yang mampu menghubungkan seluruh negeri dongeng di bawah tanah itu. Seandainya aku tahu satu pintu yang harus aku ketok lebih dulu. Iya. Seandainya begitu.

Minggu, 02 Agustus 2015

Habis


Perlahan aku kikis. dan kini habis.
Mau apa lagi ? Kita kehabisan waktu.



bukan, kita. Aku yang kehabisan waktu.





bukan, kehabisan waktu.
Ternyata aku yang tak pernah menjadi pemilik waktu. Kamu. dan Hatimu

Mati – matian aku bangkit. Ngesot. Tertatih. Sempoyongan.
Dan sampai pada akhirnya aku bisa terbang, aku malah mencari – cari pijakan.
Mencari cara untuk kembali lumpuh. Tanpa bisa lagi pergi menjauh.

 (dua agustus dini hari)

Rabu, 22 Juli 2015

That's The Air


Air
is the only matter that sent what is deep inside
Air
is the eyewitness of our precious moment
Air
is the only one that have the answers for our questions
That's the air
that whispered through our ears about love that's never come out through our mouth (2/15)


It's my first poem in my class of literature. I wrote it maybe on February 2015 with my partner, Frendy. If I'm not  mistaken, it is one of fugue (a poetic text type) which has the repetition of certain words. In this case is 'Air'.




and that's still the air
who understand the temperature changing while I'm still curious, decoding (22/7/15)

                                                                                                                                          -luss

Panglima Perang



Kemarin sore, tepat kemarin sore saat senja berada di sisa – sisa penghabisan. Ada siluet seseorang yang samar semakin mendekat, menghadirkan bentuk wajah yang tak asing. Aku mulai menyebutnya panglima perang. Ia suka membuat arena perang di mana hanya ada aku dan dia di dalamnya.

Kemarin sore, tepat ketika aku menghabiskan penghujung senja. Seorang panglima perang untuk kesekian kalinya kembali. Pada musim yang sama, membuat arena yang tidak jauh berbeda. Kembali tanpa ijin membangun arena pertempuran di teritorialku. 

Peraturannya hanya satu dalam arena berbentuk lingkaran ini, siapa yang lebih dulu menyeberang dia yang menang. Hanya tinggal berkonspirasi dengan waktu dan dewi fortuna untuk memperlambat detiknya dan mengilhamkan sedikit keberuntungannya untukku. Memasang intuisi dan logika dengan proporsi tepat dalam momen yang sempurna agar sedikitpun tak menyentuh ranjau. 

Ada panglima perang yang pernah membuatku segan menunduk sungkan, mengundangku kembali ke arena pertempuran. Menggunakan strategi usang yang sudah lama aku hafal.  Aku di seberang sini tahu benar titik – titik ranjaunya. Ia di seberang sana paham benar titik – titik granatku. Kita mengerti.
Aku tidak perlu lagi berjingkat was was untuk berjalan ke seberang. Hanya tinggal melenggak – lenggok bak puteri dengan sepatu kaca. 

Panglima perang tiba lebih dulu di titik tengah diameter area pertempuran. Tidak kurang tidak lebih. Ia tetap bergeming membiarkan aku yang mulai berlari dengan sangat anggun mencoba membius waktu.
Bersua di titik tengah area pertempuran. Menjejak tanah yang sama, garis yang sama. Bersih, sehat, tidak ada coreng moreng bekas samaran perang. Kita bertemu dalam utuh. Tak ada tangan atau kaki yang hancur oleh ranjau meski tanpa baju besi dan sepatu boot. Tak ada hati yang hancur separuh karena granat meski tanpa perlindungan tameng panglima perang.

Kita berhenti di titik tengah tanpa ingin melanjutkan satu sama lain. Tanpa ada ambisi untuk berlari ke seberang karena sejatinya kitalah pemenang sekaligus pecundang. Permainan logika dan perasaan. (luss)

Jumat, 29 Mei 2015

TUMPUL



               

             Inderanya sudah tumpul. Sejak sunset di pantai Kuta dua hari lalu, ia sudah tidak mau mengaktifkan apa – apa. Jika ada yang berusaha mengaktifkan pasti tidak akan pernah sama lagi.
            Lelaki itu terduduk di hamparan pasir putih sambil menekuk lututnya. Ia mulai menggoreskan kuasnya pada lembaran – lembaran kanvas kosong, mengekspresikan rasa dalam goresan – goresan yang jauh dari kata simetris. Namun, ada yang berbeda. Kali ini tidak ada yang tercipta, kalaupun ada itu hanyalah goresan – goresan cat tanpa makna. Goresan – goresan tak berguna yang tak sanggup memuaskan batinnya seperti biasa.
            Entah harus dengan cara apa lelaki itu mengembalikan kepekaan inderanya, mengaktifkan kembali intuisinya. Untuk saat ini lelaki itu sudah terlalu tumpul, bisikan angin yang dulu sesekali menyiulkan lagu – lagu rindu yang kemudian akan menjelma dalam goresan – goresan di kanvas tak lagi sanggup ia dengar. Bahkan jika kali ini angin mengirimkan laskarnya dalam apa yang disebut – sebut s ebagai topan dan badai. Ia tidak akan bisa merasa.
            Lelaki itu berdiri, enggan membawa kanvas kosong dan beberapa peralatan catnya. Butiran – butiran pasir yang menempel pada celana oblongnya beberapa terjatuh seiring ia berlari menuju batas pantai. Ia menghadap matahari yang masih asyik memanggang semesta. Berada di ketinggian jauh di atas batas cakrawala, mungkinkah matahari belum merindukan laut atau mungkin rasa rindu itu malah telah luntur  hingga tak lagi ada rasa ketika perjumpaan sejatinya hanyalah rutinitas yang telah dijanjikan semesta. Tentang matahari dan laut yang bersua di batas cakrawala dan menyuguhkan senja.
            Lelaki itu berjalan di batas terluar ombak. Sinar matahari hanya sanggup menerpa sebagian kiri wajahnya dan rambut hitam ikal sebahu yang sesekali menjuntai ke dahinya. Kakinya terus melangkah menjejak pasir dengan susah payah. Ia merasa penat dan mungkin itu satu – satunya rasa yang masih bisa dirasakan oleh inderanya. Ia pun berbalik menjauh dari laut dan berjalan membelakangi matahari. Tak peduli jika matahari ingin sekedar bersua dengan wajahnya bukan siluetnya yang meninggi setia mengiringi jejak langkahnya.
            Lelaki itu tak lagi menjejak pasir pantai, bahkan gemuruh ombaknya tak lagi terdengar. Kali ini ia berdiri di depan Gapura Candi Bentar, rumah adat bali dengan gapura di pintu masuknya, berlatar luas dengan sebuah pohon kamboja besar menaungi meja dan kursi marmer. 
            Lelaki itu ingin segera berisitirahat di kamar dan tertidur. Ia sekaligus ingin me-nonaktifkan semua sistem syarafnya yang memang telah tumpul ketika matanya tertuju pada 1banding wheel milik pamannya yang masih basah oleh air dan sisa – sisa coklat lempung. Di baskom sebelahnya, segumpal lempung tergeletak begitu saja. Warna coklatnya yang merata menandakan bahwa lempung tersebut telah melewati proses 2kneading dan 3wedging siap untuk dicetak. Lelaki itu menguncir rambut gondrongnya yang beberapa masih terjuntai, mengedarkan matanya ke sekitar untuk mencari pemilik alat yang saat ini begitu ingin ia sentuh. Tapi nihil, hanya bunga putih kamboja yang sesekali gugur tertiup angin. Angin yang kali ini meniupkan hawa panas sedang awan gelap mulai menyelimuti langit siang itu, mengisyaratkan kedatangan hujan pada pertengahan bulan Mei.
            Lempung itu telah berpindah tempat ke atas banding wheel. Tangan lelaki itu mulai memijit – mijit bagian tengah lempung. Gelang tali yang membentuk braid di tangan kanannya mulai belepotan oleh tanah basah. Kaos putihnya tak lagi berupa putih polos melainkan berubah seperti kaos dengan ornamen goresan cat coklat tak beraturan. Rambutnya beberapa menjuntai keluar dari kuncirnya dan gerah membuat peluhnya mengalir di pelipis dan berhenti di cambang tipisnya. Lelaki itu bukanlah seorang pengrajin gerabah. Ia adalah seniman lukis yang bebas tak terikat oleh bentuk dan wujud tiga dimensi. Namun, Ia tidak mengerti mengapa momen ini begitu berarti untuknya. Entah mengapa ia mau mengais – ngais sisa kekuatan indera terakhir untuk membuat karya ini. Sejenak mengaktifkan kembali intuisinya dan berkata bahwa batinnya akan menemui titik kepuasannya, seakan ia tahu bagaimana memperlakukan intuisinya yang koma.
            Tanpa bersuara lelaki itu terus memijat dan memilin hingga gundukan tanah lempung berubah menjadi cangkir mungil di atas banding wheel. Ada rasa puas yang tak terbendung di sana tapi tak sedikitpun bibirnya  tertarik untuk sekedar menyunggingkan senyum atau matanya yang menyipit untuk melengkapi tawa. Intuisinya kembali akut, inderanya mati tak sanggup lagi merasa. Lelaki itu bangkit dan mengangin- anginkan cangkirnya pada meja beton di bawah pohon kamboja kemudian duduk di teras. Memandanginya dalam diam dari jarak 6 meter semakin membuat cangkir itu terlihat kecil di antara pohon kamboja, meja marmer dan benda lainnya.
            Awan mendung mulai menepati janjinya untuk menghadirkan butiran hujan yang mulai turun satu – satu, dua – dua, tiga – tiga, empat – empat, lima – lima, tak terhingga. Lelaki itu bergeming memandangi cangkirnya yang perlahan mulai terisi butiran – butiran air hujan. Ada perasaan hangat saat cangkir itu penuh oleh bening hujan dan hangat itu mendadak hilang tanpa berubah menjadi panas ataupun mereda menjadi dingin melihat air hujan yang mulai meluap dari cangkirnya. Guyuran hujan yang semakin deras menggerus cangkir yang belum sepenuhnya kering. Cangkirnya amblas terbilas sedang hujan hanya bertugas untuk terjatuh lantas menguap begitu saja.
            Lelaki itu tetap bergeming sampai hujan kembali turun lima – lima, empat – empat, tiga –tiga, dua – dua, satu – satu, tak bersisa. Ia kini tersenyum menyadari kepicikannya yang membuatnya terfokus pada sebuah wadah mungil. Terlalu gegabah untuk menadahi hujan pada wadah yang masih setengah basah. Bahkan terlalu bodoh untuk sekedar ingin menyimpan seluruh hujan dalam cangkir mungilnya dan terlalu egois untuk tidak membaginya dengan semesta.
            Lelaki itu bangkit masuk ke dalam kamar membiarkan sisa – sisa lempung di meja marmer yang pernah sejenak menjadi cangkir. Ia tahu bahwa ia hanya salah wadah. Toh nanti dia bisa berganti wadah. Meski untuk menampung seluruh butiran hujan di semesta ini tidaklah mudah.  Kini lelaki itu benar – benar ingin tertidur, benar – benar ingin me-nonaktifkan intuisi dan inderanya. Menutup telinga dari bisikan rindu angin, menutup mata dari biasan cahaya. Menutup intuisinya dari satu buah nama yang terus menggema di sudut – sudut ruang hatinya. Menggambarkan siluet perempuan yang sanggup menjelma menjadi matahari untuk haus gelombang lautnya yang selalu menanti senja di batas tepi cakrawala. Kemudian menganggap pertemuan itu magis dan sakral sedang matahari tak punya rasa karna singgah di perbatasan cakrawala adalah rutinitas yang dihadirkan semesta. Dialah perempuan yang sanggup menjelma menjadi hujan dalam kemarau panjangnya. Terlalu naif untuk sekedar ingin menyimpannya dalam sebuah cangkir mungil.
            Lelaki itu terlelap jauh dalam alam bawah sadarnya dan melukis segala rasa yang ada sebelum akhirnya ia binasakan begitu saja. Menumpulkan segala bentuk intuisinya untuk berada pada senja esok harinya.
                                                                        ------- ii --------
            Lelaki itu membawa juntaian rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya. Membiarkan sisanya di acak – acak oleh angin laut. Ia kembali terduduk di pasir, memandangi kanvas yang tak lagi kosong. Ada goresan warna orange, biru, dan coklat tanpa wujud yang realis tapi setidaknya batinnya puas.
            Langkah kecil perempuan berhenti tepat di sebelahnya dan menarik sang pemilik untuk terduduk mengikuti gaya gravitasi. Perempuan itu menyapa seperti biasa, memotret orange yang sama setiap harinya dengan kamera yang tak pernah lepas menggantung di lehernya. Topi bundar perempuan itu tiba – tiba terbang oleh angin yang sepertinya terlalu bersemangat menyapa. Perempuan itu tertawa sambil terburu – buru memotret lukisan lelaki di sebelahnya kemudian menyentuh kertas yang terselip pada bingkai kanvas. Segera ia membaca sajak yang pertama kali menemani lukisan lelaki yang masih diam menikmati orange yang disuguhkan senja kala itu.
           
Akulah lautan yang menunggu dan mengagungkan kedatangan senja. Satu waktu di mana laut dan matahari sama – sama berada pada batas cakrawala. Sementara kamu adalah matahari yang selalu bersinar tanpa rasa apa – apa karena bagimu senja hanyalah pertemuan, sebuah rutinitas yang dijanjikan oleh semesta. Menginginkanmu sama saja dengan membunuh pagi dan menyekap malam sisanya hanya menyuguhkan senja pada semesta selamanya
 
            Perempuan itu tertawa, bukan kepada sajaknya. Ia menertawakan lelaki yang telah membuat sajak itu. Seperti melihat singa yang berusaha keras menjadi seekor kucing anggora. Setahun sudah perempuan itu menjadi kolektor lukisan abstraknya baru kali ini barisan sajak muncul dari keabstrakan partner kerjanya. Perempuan itu semakin tertawa, lepas tanpa beban apa – apa. Tanpa rasa. (Luss)


1banding wheel : meja putar dalam proses pembuatan keramik dari tanah liat
2kneading : proses pengulian, menekan – nekan tanah liat agar tingkat keplastisan dan homogenitas merata serta bebas dari gelembung udara.
3wedging: proses pengirisan tanah yang bertujuan untuk mencampur satu macam tanah atau lebih yg berbeda warna, jenis, dan plastisitasnya.