Sabtu, 31 Desember 2016

#2 Mari Bercerita



Mari bercerita tentang sebuah kata ‘patah’ lalu menyandingkannya dengan kata ‘hancur’. Jika diizinkannya aku untuk memilih, ‘hancur’ akan segera kudekap. Ku kan melebur lalu menghilang bersama angin daripada patah yang hanya membuatku lemah.
          Waktu memang berlalu jauh dari titik itu dan akupun begitu. Bedanya, waktu tak akan bisa kembali tapi aku selalu bisa kembali. Seperti ada lorong waktu yang pernah diceritakan di tengah hari yang sepi. Banyak yang tidak tahu, melihatku berjalan jauh, mengiraku tlah lupa dan baik-baik saja.
          Mungkin kedengaannya gila. Picisan. Mungkin bagi semesta ini adalah sebuah lelucon yang sederhana. Yang lalu hilang setelah berkali-kali diutarakan. Jika benar begitu, aku akan menganggapnya demikian. Membuatnya seperti lelucon yang hanya berkesan sekali tanpa bisa lagi diulang berkali kali. Tapi sayangnya bukan, karena berkali-kali kesan yang diberikannya tetap sama. Tidak hanya lucu di dalamnya tapi segala macam rasa meski kini yang tersisa hanyalah sesak. Rasanya seperti begah hingga ku tak kuasa melangkah.
Mari bercerita. Di penghujung tahun ini aku ingin merayakan waktu yang kuhabiskan untuk sendiri mengamati dan menikmati segalanya dalam diam. Untuk waktu yang kuhabiskan mengirim suara dalam udara, menyisipkan nada dalam cerita. Ingin ku merayakan pesta perpisahan dalam hati yang kesekian kali. Aku tidak sedang mengundang apa dan siapa. Betapa anehnya jika aku merayakan kesendirian yang panjang dan menutupnya dengan mengundang keramaian. Tidak. Aku ingin menggenapi kesendirianku di penghujung ini. 
Pernah aku patah, dahulu. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi patah. Namun, jika seperti yang lalu disebut patah, harus ada kata lain untuk mendefinisikan lebih dari sekedar patah. Telah kulakukan, mencari tau makna lewat kata-kata dan hasilnya percuma. Telah kutinggalkan beribu jejak dalam kata, beribu kisah dalam nada. Telah kutinggalkan remah-remah roti di perjalanan untuk pada akhirnya menjadi penuntunku pulang atau malah hilang tersapu zaman.
Akalku habis. Keyakinanku memudar tapi jua tak kunjung hilang. Harapku musnah tapi tetap tak dapat berpindah. Segala sesuatunya tlah terpahat dengan apik. Susah dikembalikan ke bentuknya yang semula.
          Mari bercerita tentang sebuah pilihan. Betapa hidup adalah sebuah pilihan. Betapa hari-hari lalu aku tak mengganngap hidup seperti itu. Menjalaninya dengan konsep mengalir di atas daun eceng gondok. Tapi lalu aku salah. Hidup memang sebuah pilihan. Tidak selamanya aku berjalan bersama arus, sesekali aku harus mampu mengendalikan arus itu. Berhenti mengikuti kata hati yang dulu aku agung agungkan. Dan jika memang hidup dan segala sesuatunya adalah pilihan aku berharap dia adalah pilihan yang aku buat sendiri. Aku berharap segala kebetulan dan keajaiban yang aku rasakan adalah pilihan yang kubuat sendiri. Mengumpulkan bukti bukti bahwa hatiku salah, dan pikiranku benar.
Segala sesuatunya adalah pilihan. Dan aku membenci sisi diriku yang tidak pernah bisa memilih pergi, melepas, membebaskan.
Ku ingin bercerita tentang sebuah kemungkina di mana tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menata ulang, mengobati apa yang terluka, membangun reruntuhan percaya, menerangkan redup harap, membenahi apa yang patah atau menjadi hancur dan melebur. Mungkin cara yang terbaik adalah membiarkan aku terbiasa. Terbiasa dengan semua hingga di satu titik yang kini belum terlihat segala sesuatunya menjadi biasa saja.
Aku tidak meminta bantuan siapa-siapa. Untuk apa. Ini urusanku. Biarkanlah tetap begitu. Karena mungkin yang lain bosan mendengarkan. Memang, semua terlihat begitu kadaluwarsa. Sesungguhnya.
Mari bercerita—menghabiskan sisa-sisa rasa yang pernah ada. Aku harap sebentar lagi sirna. Tinggal sedikit saja, aku hanya perlu merasa, menerima sebelum pada akhir membebaskannya—karena aku tidak yakin jika esok, jika lusa, jika entah aku masih sanggup bercerita. (luss)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar