Mari bercerita tentang sebuah kata ‘patah’ lalu
menyandingkannya dengan kata ‘hancur’. Jika diizinkannya aku untuk memilih, ‘hancur’
akan segera kudekap. Ku kan melebur lalu menghilang bersama angin daripada
patah yang hanya membuatku lemah.
Waktu memang
berlalu jauh dari titik itu dan akupun begitu. Bedanya, waktu tak akan bisa
kembali tapi aku selalu bisa kembali. Seperti ada lorong waktu yang pernah
diceritakan di tengah hari yang sepi. Banyak yang tidak tahu, melihatku
berjalan jauh, mengiraku tlah lupa dan baik-baik saja.
Mungkin kedengaannya gila. Picisan. Mungkin
bagi semesta ini adalah sebuah lelucon yang sederhana. Yang lalu hilang setelah
berkali-kali diutarakan. Jika benar begitu, aku akan menganggapnya demikian. Membuatnya
seperti lelucon yang hanya berkesan sekali tanpa bisa lagi diulang berkali
kali. Tapi sayangnya bukan, karena
berkali-kali kesan yang diberikannya
tetap sama. Tidak hanya lucu di dalamnya tapi segala
macam rasa meski kini yang tersisa hanyalah sesak. Rasanya seperti begah hingga
ku tak kuasa melangkah.
Mari
bercerita. Di penghujung tahun
ini aku ingin merayakan waktu yang kuhabiskan untuk sendiri mengamati dan menikmati
segalanya dalam diam. Untuk waktu yang kuhabiskan mengirim suara dalam udara, menyisipkan nada dalam cerita. Ingin ku
merayakan pesta perpisahan dalam hati yang kesekian kali. Aku tidak sedang
mengundang apa dan siapa. Betapa anehnya jika aku merayakan kesendirian yang
panjang dan menutupnya dengan mengundang keramaian. Tidak. Aku ingin menggenapi
kesendirianku di penghujung ini.
Pernah aku patah, dahulu. Aku tahu bagaimana rasanya
menjadi patah. Namun, jika seperti yang lalu disebut patah, harus ada kata lain
untuk mendefinisikan lebih dari sekedar patah. Telah kulakukan, mencari tau
makna lewat kata-kata dan hasilnya percuma. Telah kutinggalkan beribu jejak
dalam kata, beribu kisah dalam nada. Telah kutinggalkan remah-remah roti di
perjalanan untuk pada akhirnya menjadi penuntunku pulang atau malah hilang tersapu
zaman.
Akalku habis. Keyakinanku memudar tapi jua tak kunjung
hilang. Harapku musnah tapi tetap tak dapat berpindah. Segala sesuatunya tlah
terpahat dengan apik. Susah dikembalikan ke bentuknya yang semula.
Mari bercerita
tentang sebuah pilihan. Betapa hidup adalah sebuah pilihan. Betapa
hari-hari lalu aku tak mengganngap hidup seperti itu. Menjalaninya
dengan konsep mengalir di atas daun eceng gondok. Tapi lalu aku salah. Hidup
memang sebuah pilihan. Tidak selamanya aku berjalan bersama arus, sesekali aku harus mampu mengendalikan arus itu. Berhenti mengikuti kata hati yang dulu
aku agung agungkan. Dan jika
memang hidup dan segala sesuatunya adalah pilihan aku berharap dia adalah
pilihan yang aku buat sendiri. Aku berharap segala kebetulan dan keajaiban yang
aku rasakan adalah pilihan yang kubuat sendiri. Mengumpulkan
bukti bukti bahwa hatiku salah, dan pikiranku benar.
Segala sesuatunya adalah pilihan. Dan aku
membenci sisi diriku yang tidak pernah bisa memilih pergi,
melepas, membebaskan.
Ku ingin bercerita tentang sebuah kemungkina di mana tidak
ada yang bisa aku lakukan untuk menata ulang, mengobati apa yang terluka,
membangun reruntuhan percaya, menerangkan redup harap, membenahi apa yang patah
atau menjadi hancur dan melebur. Mungkin
cara yang terbaik adalah membiarkan aku terbiasa. Terbiasa dengan semua hingga
di satu titik yang kini belum terlihat segala sesuatunya menjadi biasa saja.
Aku
tidak meminta bantuan siapa-siapa. Untuk apa. Ini urusanku. Biarkanlah tetap begitu.
Karena mungkin yang lain bosan mendengarkan. Memang,
semua terlihat begitu kadaluwarsa. Sesungguhnya.
Mari
bercerita—menghabiskan
sisa-sisa rasa yang pernah ada. Aku harap sebentar lagi sirna. Tinggal sedikit
saja, aku hanya perlu merasa, menerima
sebelum pada akhir membebaskannya—karena aku tidak yakin jika
esok, jika lusa, jika
entah aku masih sanggup bercerita. (luss)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar