Rabu, 15 April 2015

Ursula dan Dongeng Purba




        Sebut saja itu gaun hitam dan kini gaun itu sepenuhnya basah terlapisi partikel – partikel air. Bagian bawah gaun yang berbentuk enam tentakel bergerak – gerak oleh gelombang ombak dan  membuatnya seolah – olah nyata. Sedang rambut pirang yang tadinya tersanggul dan berjambul terlepas begitu saja, terurai mengambang, menari – nari mengikuti timbul dan tenggelamnya air laut. Tangan gadis pemakai gaun hitam itu melambai serasi dengan lambaian tentakel – tentakel pada gaun hitamnya, menimbulkan tarian bawah air bebas lepas tanpa koreografi. Gadis itu sama sekali tidak mengeluarkan tenaga untuk membuat dirinya kembali menuju daratan. Wajahnya mulai memucat, kerutan – kerutan tipis mulai nampak pada ujung jemarinya yang runcing. Sinar mentari menerobos masuk, membiaskan cahaya – cahaya pada bibir nya yang kini mulia terlihat membiru serasi dengan sisa eyeshadow di sekitar matanya yang besar. Ada banyak cahaya di luar sana, tapi tak sedikitpun terbesit dalam keinginannya untuk menuju permukaan.
        Sejenak ingin ia memejamkan mata dan luruh bersama partikel air untuk secepatnya tergeletak pada dasar tempat ini. Lamat - lamat terdengar suara yang getarannya menjalari partikel – partikel air di sekitar gadis itu. Ada seseorang yang berteriak di atas sana dan bayangannya samar bergerak - gerak. Mata gadis itu menyipit mencoba menerobos riuh gelombang air yang terbias sinar mentari. Seseorang itu kian berteriak dan gelombang suaranya semakin hebat menggetarkan partikel – partikel air. Bayangannya mulai bergerak dengan cepat lalu tiba – tiba dua buah tangan terulur untuk menarik gadis berkalung keong yang masih bergeming di tempatnya bahkan menyambut uluran tangan pun tidak.
          Gadis itu sepertinya tidak ingin kembali ke permukaan , ingin ia menjauh dari apa yang pernah menjadi dekat. Ingin ia menjauh dari cerita dongeng yang kekal, tentang Ariel si puteri duyung dan Eric si pangeran tampan. Dongeng itu sudah kekal, semesta hanya menginginkan Ariel dan pengaran tampan tanpa ada ruang untuk Ursula si penyihir jahat, kalaupun ruang itu ada semesta tidak akan berdusta ataupun menistai dongeng purba.
          Gadis itu tetap bergeming tak acuh oleh ajakan lelaki itu untuk kembali ke daratan. Untuk beberapa saat mata mereka beradu dalam kungkungan tentakel – tentakel yang melambai – lambai mengikuti gerak air. Baru kali ini gadis itu merasa nyaman dan aman hingga tak perlu ia meracik ramuan untuk mengubah dirinya menjadi gadis berambut coklat bergaun biru yang pendongeng sebut – sebut sebagai Vanessa, manusia seutuhnya. Kalung keong emas yang tergantung pada leher gadis itu sejenak bersinar mengeluarkan asap putih halus yang kini mulai bergerak menuju lelaki itu. Seandainya saja ia bisa menangis untuk sekedar melegakan apa yang menyesaki hatinya tapi kenyataannya puteri duyung tidak bisa menangis dalam dongeng – dongeng klasik itu apalagi  makhluk laut seperti dirinya.
        Wajah gadis itu tak sedikitpun bergerak hingga terlihat seperti lukisan dalam air dan asap putih itu seperti kata yang menjembatani kebisuan gadis dan lelaki itu. Asap putih itu mengepung dan menari - nari mengerubungi kepala lelaki itu dari berbagai arah, kemudian berbaris rapi masuk ke dalam botol yang sedari tadi terikat di pinggangnya.
     Wajah lelaki itu perlahan berubah menjadi lunak, tangannya tak lagi berusaha menggapai tangan gadis itu. Sudut - sudut bibirnya tertarik dengan sangat tulus dan sekilas menatap dalam mata gadis berambut pirang panjang yang kini mulai tampak terlihat sayu, sebelum akhirnya, kakinya menjejak dasar laut dan mendorong seluruh tubuhnya untuk kembali berenang ke permukaan. Sedangkan gadis itu masih tetap bergeming membiarkan semuanya luruh bersama partikel – partikel air. Luruh di tempat di mana ia seharusnya berada. Gadis itu benar – benar terdiam tanpa menoleh sedikitpun kepada lelaki yang semakin terus berenang ke permukaan. Ia tak ingin mengaktifkan sel – sel otak yang akan mengaktifkan saraf - saraf ototnya untuk  berenang kembali ke permukaan dan mendobrak dongeng abadi itu. Tidak, biarkan dongeng itu abadi seperti seharusnya.
      Tak lama, jauh di permukaan sana, lelaki tampan itu terduduk di tepian tanah berpasir sambil menghirup partikel – partikel udara sebanyak mungkin menggantikan partikel air yang sempat menerobos masuk ke dalam paru – parunya. Ditariknya sepotong kayu yang menyumbat tutup botol di pinggangnya. Selaput – selaput putih tipis melayang – layang keluar bersamaan dengan menggemanya kata – kata.
        
      Tolong, sebut laut biru yang aku anggap sebagai merah itu merah lalu biarkan aku mengeja satu persatu warna pelangi dengan susunanku sendiri. Tolong katakan saja air ini sama sekali tidak dingin dan aku benar – benar menari di dalamnya walaupun jemariku sudah mengkerut dan membiru, bahkan ada sesuatu yang tak lagi sanggup berdetak, sesuatu yang menyalahi ruang dan waktu. Tolong katakan aku baik – baik saja, tolong tersenyum kepadaku, jangan hiraukan aku yang tenggelam dalam air ini, sesak oleh air yang memasuki celah – celah hati yang baru saja berlubang, membanjiri tempat kosong yang baru saja aku dobrak keluar penghuninya. Aku akan berdiam pada settingan dongeng semesta tanpa ingin lagi aku mendobraknya. Begitu juga kamu, pemeran pangeran dalam dongeng purba.”
          
        Uap uap halus menguap begitu saja dari botol seiring dengan berakhirnya kata  - kata. Lelaki itu menunduk meneteskan air bening dari sudut matanya, membiarkan sesak di hatinya keluar bersama air matanya sekaligus mewakilkan tangisan gadis di bawah sana. Lelaki itu bangkit menyusuri pinggiran pantai. Kakinya mantap menjejak masuk dalam pasir yang basah oleh guyuran ombak, tapi separuh pijakannya masih tertinggal di dasar sana bersama gadis yang memilih menyerah dengan dongeng semesta. Seorang gadis yang selamanya menyandang gelar penyihir jahat dan seolah – olah tak pantas untuk jatuh cinta. Lelaki itu terus berjalan menjauh dari bibir pantai, menjauh dari cinta yang terabaikan oleh dongeng purba. Meski sebenarnya semua makhluk berhak untuk jatuh cinta, baik lelaki maupun gadis itu sudah mengetahui endingnya. Jauh di kerajaan lelaki tampan itu, Ariel, perempuannya telah menunggu datangnya sebuah cinta abadi dalam dongeng saklek yang selamanya tidak akan pernah bisa berubah bahkan gelembung – gelembung yang orang bilang cinta tidak mampu meruntuhkan settingan dongeng semesta tentang Ariel si puteri duyung, Eric si pangeran tampan dan penyihir jahat, Ursula.

                                                                                                              ~Luss~