Sebut
saja itu gaun hitam dan kini gaun itu sepenuhnya basah terlapisi partikel –
partikel air. Bagian bawah gaun yang berbentuk enam tentakel bergerak – gerak
oleh gelombang ombak dan membuatnya seolah
– olah nyata. Sedang rambut pirang yang tadinya tersanggul dan berjambul
terlepas begitu saja, terurai mengambang, menari – nari mengikuti timbul dan
tenggelamnya air laut. Tangan gadis pemakai gaun hitam itu melambai serasi
dengan lambaian tentakel – tentakel pada gaun hitamnya, menimbulkan tarian
bawah air bebas lepas tanpa koreografi. Gadis itu sama sekali tidak
mengeluarkan tenaga untuk membuat dirinya kembali menuju daratan. Wajahnya mulai
memucat, kerutan – kerutan tipis mulai nampak pada ujung jemarinya yang
runcing. Sinar mentari menerobos masuk, membiaskan cahaya – cahaya pada bibir
nya yang kini mulia terlihat membiru serasi dengan sisa eyeshadow di sekitar
matanya yang besar. Ada banyak cahaya di luar sana, tapi tak sedikitpun
terbesit dalam keinginannya untuk menuju permukaan.
Sejenak ingin ia memejamkan mata dan
luruh bersama partikel air untuk secepatnya tergeletak pada dasar tempat ini. Lamat
- lamat terdengar suara yang getarannya menjalari partikel – partikel air di
sekitar gadis itu. Ada seseorang yang berteriak di atas sana dan bayangannya
samar bergerak - gerak. Mata gadis itu menyipit mencoba menerobos riuh gelombang
air yang terbias sinar mentari. Seseorang itu kian berteriak dan gelombang
suaranya semakin hebat menggetarkan partikel – partikel air. Bayangannya mulai bergerak
dengan cepat lalu tiba – tiba dua buah tangan terulur untuk menarik gadis berkalung
keong yang masih bergeming di tempatnya bahkan menyambut uluran tangan pun
tidak.
Gadis itu sepertinya tidak ingin
kembali ke permukaan , ingin ia menjauh dari apa yang pernah menjadi dekat. Ingin
ia menjauh dari cerita dongeng yang kekal, tentang Ariel si puteri duyung dan Eric
si pangeran tampan. Dongeng itu sudah kekal, semesta hanya menginginkan Ariel
dan pengaran tampan tanpa ada ruang untuk Ursula si penyihir jahat, kalaupun ruang
itu ada semesta tidak akan berdusta ataupun menistai dongeng purba.
Gadis itu tetap bergeming tak acuh
oleh ajakan lelaki itu untuk kembali ke daratan. Untuk beberapa saat mata
mereka beradu dalam kungkungan tentakel – tentakel yang melambai – lambai mengikuti
gerak air. Baru kali ini gadis itu merasa nyaman dan aman hingga tak perlu ia
meracik ramuan untuk mengubah dirinya menjadi gadis berambut coklat bergaun
biru yang pendongeng sebut – sebut sebagai Vanessa, manusia seutuhnya. Kalung
keong emas yang tergantung pada leher gadis itu sejenak bersinar mengeluarkan
asap putih halus yang kini mulai bergerak menuju lelaki itu. Seandainya saja ia
bisa menangis untuk sekedar melegakan apa yang menyesaki hatinya tapi kenyataannya
puteri duyung tidak bisa menangis dalam dongeng – dongeng klasik itu
apalagi makhluk laut seperti dirinya.
Wajah gadis itu tak sedikitpun
bergerak hingga terlihat seperti lukisan dalam air dan asap putih itu seperti
kata yang menjembatani kebisuan gadis dan lelaki itu. Asap putih itu mengepung
dan menari - nari mengerubungi kepala lelaki itu dari berbagai arah, kemudian berbaris
rapi masuk ke dalam botol yang sedari tadi terikat di pinggangnya.
Wajah lelaki itu perlahan berubah
menjadi lunak, tangannya tak lagi berusaha menggapai tangan gadis itu. Sudut - sudut
bibirnya tertarik dengan sangat tulus dan sekilas menatap dalam mata gadis
berambut pirang panjang yang kini mulai tampak terlihat sayu, sebelum akhirnya,
kakinya menjejak dasar laut dan mendorong seluruh tubuhnya untuk kembali
berenang ke permukaan. Sedangkan gadis itu masih tetap bergeming membiarkan
semuanya luruh bersama partikel – partikel air. Luruh di tempat di mana ia
seharusnya berada. Gadis itu benar – benar terdiam tanpa menoleh sedikitpun
kepada lelaki yang semakin terus berenang ke permukaan. Ia tak ingin
mengaktifkan sel – sel otak yang akan mengaktifkan saraf - saraf ototnya untuk berenang kembali ke permukaan dan mendobrak
dongeng abadi itu. Tidak, biarkan dongeng itu abadi seperti seharusnya.
Tak lama, jauh di permukaan sana,
lelaki tampan itu terduduk di tepian tanah berpasir sambil menghirup partikel –
partikel udara sebanyak mungkin menggantikan partikel air yang sempat menerobos
masuk ke dalam paru – parunya. Ditariknya sepotong kayu yang menyumbat tutup
botol di pinggangnya. Selaput – selaput putih tipis melayang – layang keluar
bersamaan dengan menggemanya kata – kata.
“Tolong, sebut laut biru
yang aku anggap sebagai merah itu merah lalu biarkan aku mengeja satu persatu
warna pelangi dengan susunanku sendiri. Tolong katakan saja air ini sama sekali
tidak dingin dan aku benar – benar menari di dalamnya walaupun jemariku sudah
mengkerut dan membiru, bahkan ada sesuatu yang tak lagi sanggup berdetak, sesuatu
yang menyalahi ruang dan waktu. Tolong katakan aku baik – baik saja, tolong tersenyum
kepadaku, jangan hiraukan aku yang tenggelam dalam air ini, sesak oleh air yang
memasuki celah – celah hati yang baru saja berlubang, membanjiri tempat kosong
yang baru saja aku dobrak keluar penghuninya. Aku akan berdiam pada settingan
dongeng semesta tanpa ingin lagi aku mendobraknya. Begitu juga kamu, pemeran
pangeran dalam dongeng purba.”
Uap uap halus menguap begitu saja dari
botol seiring dengan berakhirnya kata -
kata. Lelaki itu menunduk meneteskan air bening dari sudut matanya, membiarkan
sesak di hatinya keluar bersama air matanya sekaligus mewakilkan tangisan gadis
di bawah sana. Lelaki itu bangkit menyusuri pinggiran pantai. Kakinya mantap menjejak
masuk dalam pasir yang basah oleh guyuran ombak, tapi separuh pijakannya masih
tertinggal di dasar sana bersama gadis yang memilih menyerah dengan dongeng
semesta. Seorang gadis yang selamanya menyandang gelar penyihir jahat dan
seolah – olah tak pantas untuk jatuh cinta. Lelaki itu terus berjalan menjauh
dari bibir pantai, menjauh dari cinta yang terabaikan oleh dongeng purba. Meski
sebenarnya semua makhluk berhak untuk jatuh cinta, baik lelaki maupun gadis itu
sudah mengetahui endingnya. Jauh di kerajaan lelaki tampan itu, Ariel,
perempuannya telah menunggu datangnya sebuah cinta abadi dalam dongeng saklek
yang selamanya tidak akan pernah bisa berubah bahkan gelembung – gelembung yang
orang bilang cinta tidak mampu meruntuhkan settingan dongeng semesta tentang
Ariel si puteri duyung, Eric si pangeran tampan dan penyihir jahat, Ursula.
~Luss~
