Mari
bercerita. Aku sedang ingin bercerita tentang kata ‘pertama’. Seperti saat
pertama aku meresapi bau hujan, mendengar nada-nada bertautan, mengamati bentuk
awan, atau pertama kali aku benar-benar menghayati warna senja. Aku masih mengingatnya,
menyimpannya dengan rapi di sudut-sudut ruang kosong yang tersisa, di
kolong-kolong tempat deadline harian tengah antre tertidur, di laci-laci yang
belum sempat disusupi rutinitas, di tabung lubang gitar yang seharusnya kosong,
juga kutitipkan pada udara yang menyusup di lubang seruling, di celah-celah rak
buku atau bahkan di rongga busa sabun mandi.
Dan
akhir-akhir ini aku merasa sesak. Tak ada lagi ruang kosong, semua celah tlah dihuni
oleh kata ‘pertama’. Pernah aku bertanya, adakah pertama untuk kali kedua? Berkali-kali
aku bertanya dan ‘tidak’ tetap menjadi jawabnya. Tidak ada pertama untuk kali
kedua, ketiga, keempat; tidak ada pertama untuk kesekian kalinya. Lalu, betapa hujan,
betapa awan, nada, dan senja pertama menjadi sesuatu yang begitu istimewa. Itulah mengapa aku menyimpannya, sesekali
merapikan jikalau ingatan tentang ‘pertama’ mulai menguar, sesekali mewarnanya
jikalau memudar, lalu mulai menutup pintu-pintu keluar, menahannya agar tak ke
mana-mana.
Akhir-akhir
ini semakin sesak saja. Segala yang ‘pertama’ ada di mana-mana. Ada di udara
saat aku menarik napas, ada di sela-sela buku yang kubaca, ada saat aku
berkaca, ada saat aku membunyikan nada.
Dan lalu, untuk apa? Untuk apa menjaganya tetap ada sementara sesaknya
menyiksa? Maka sebelum tergelagap mati pengap, kubuka separo pintu, menyilakannya
berlalu tanpa tergugu, pilu. Membebaskan mereka pergi bersama udara yang
berganti.
Sore
ini, kaca jendelaku diketok-ketok oleh rintik hujan yang deras sekejap lalu
reda, menyisakan aromanya yang khas saat
awan mendung mulai digantikan arakan awan putih, sinar matahari menyembul di
sela-selanya sekejap lalu tenggelam di antara awan yang mengguratkan warna-warna
senja. Sekilas, semuanya nampak sama. Hujan, awan, senja.Tapi pertama kali aku
menyesapi aroma hujan terasa berbeda. Tapi pernah aku mengamati bentuk awan dan
tak serupa. Pernah aku menghayati guratan senja dengan komposisi warna yang
berbeda.
Dan
lalu, jika beda selalu ada, memang tidak akan ada pertama untuk kali kedua. Lalu
jika beda selalu ada bukankah segala sesuatunya adalah yang pertama? Aku pernah
melihat hujan dan bukan seperti ini. Pernah kusesapi aroma hujan tapi tak
seperti ini. Pernah ku amati bentuk awan tapi tak seperti ini. Dan lalu, ‘seperti
ini’ akan menjelma menjadi yang ‘pertama’. Sama seperti aku pernah jatuh hati
tapi tak seperti ini. Sehingga jika beda selalu ada segala sesuatunya akan
menjadi istimewa ataupun biasa saja. Tergantung memilih yang mana. Bukankah hidup
memang sebuah pilihan.
Dan
pilihanku jatuh pada istimewa. (luss)