Tepat satu tahun lalu, aku menuliskan sebuah resolusi yang mengalir seperti
air, menetes perlahan seperti hujan. Sekarang tengoklah ke mari, ke dalam sini.
Masuklah, maka kau akan melihat perpaduan yang indah. Komposisi stalagtit dan
stalagmit yang menggantung di langit – langit dan mengalas di lantai – lantai
goa. Jangan mencari di luar, resolusiku belum menjelma menjadi tetesan hujan.
Belum. Mereka masih di sini menjelma menjadi batuan purba dalam goa. Masuklah
maka kau akan tahu. Jangan berdiri mematung di luar, hanya gersang yang akan
kau dapatkan. Mendekatlah ada ruang di sana, ada sunyi yang teguh menjaga hening
tetap menjadi bening. Lalu satu demi satu menetes dari stalagtit keinginan
menjadi stalagmit kepuasan. Seimbang. Tak
ada halangan, rintangan, menerjang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran
Dan aku seperti tengah berada di antaranya. Mengambang. Memandang perpaduannya
yang begitu serasi. Bersyukur pada setiap tetesnya. Aku takut menambah. Aku
takut merubah. Dan aku belum mau melangkah. Dalam goa ini, impian dan kenyataan
berhadap – hadapan dengan proporsi yang begitu indah. Aku ingin diam saja,
menikmati. Menyesapi kembali lama waktu yang terhabiskan untuk menghasilkan
semua dekorasi goa ini. Tapi semakin lama diam mengagumi aku menjadi tidak
berfungsi. Mendadak sunyi menjelma sepi. Sendiri. Lalu, aku mencari – cari keberanian
untuk melangkah keluar menantang hutan belakar, bersua dengan terik mentari dan
basah hujan. Namun gagal. Goa ini terlalu nyaman. Aman. Aku hanya takut mati
bosan.
Lalu, secercah cahaya terang masuk dari pintu goa. Secercah lainnya
menerobos begitu saja lewat celah dinding – dindingnya. Membuat aku penasaran
terang seperti apa yang berada di luar. Membuat sebuah harapan untuk melangkah
ke depan. Keluar. Cahaya itu semakin terang. Harapan ini berubah menjadi
keyakinan. Pesta perpisahan untuk sebuah perjumpaan. Goa ini resmi aku
tinggalkan.
28122015
Luss~