Panas terik matahari memanggang bumi
di siang hari itu. Perempuan berambut lurus dengan kuncir kuda sedang
terduduk di sebuah kursi kayu. Kedua tangannya memutar - mutar benda persegi
berwarna putih sedang dagunya menempel pada permukaan meja kayu bundar di
depannya.
Layar hapenya menyala, memunculkan
sebuah box putih bertuliskan Deren dan sebuah pesan singkat yang masih enggan
di bukanya. Deren, entah bagaimana lelaki berparas batak dengan sedikit darah
perancis itu dapat mengambil alih sebagian kesadarannya. Dua kali purnama ia menghabiskan waktunya
bersama Deren, selama itu pulalah sinkronisasi itu terjadi, seakan ujung –
ujung kabel mereka selalu berada di tempat yang tepat, beberapa menyambung
sementara sebagian yang lain menjauh dengan sendirinya seakan mengantisipasi
terjadinya konslet. Belum pernah ia bertemu dengan makhluk seperti ini.
Kesinambungan itu yang membuat Deren
belum mendapatkan tempat yang cocok di kehidupan perempuan itu. Deren bukan
hanya sekedar teman, dia lebih dari sekedar definisi teman yang sesungguhnya.
Cinta ? tidak, bukan seperti ini perasaan cinta. Jika bisa diukur dengan 0
sebagai teman dan 10 sebagai cinta, mungkin Deren berada pada semua posisi itu
dalam satu waktu tapi tak jarang juga ia berfluktuasi.
Halaman rumah berornamen jawa itu
begitu luas, sehingga dari depan, teras itu seperti berada di tengah – tengah
hutan tropis. Perempuan itu mengangkat dagunya yang sedari tadi menempel pada meja
untuk sekedar mengecek jam coklat tua berbentuk burung hantu dengan satu sayap
yang lebih terlihat seperti sayap ayam, melekat pada dinding berpelitur coklat
tua. Warnanya yang senada membuat jam itu seakan bersatu dengan dinding. 12.00
pantas cahaya matahari begitu ganas.
“Kak , kenapa bunga Rosa berubah
warna jadi coklat ?”
Seorang anak kecil dengan wajah cemberut
datang menghampiri perempuan itu sambil membawa bunga kaktus dalam sebuah pot
yang mulai tampak layu. Kaos putihnya tak lagi menjadi putih bersih terkena
noda – noda tanah, terlihat sekali betapa keras usahanya merawat tanaman itu. Rok
merahnya terlihat basah oleh tumpahan air dari kendi penyiram di tangan
kanannya.
“Liat kak, durinya jadi gak tajem,
warnanya coklat, bunganya malah mau mati padahal Rosa gak pernah lupa buat
nyiramin kaktus ini kak.” Anak kecil itu tetap berdiri, diam sejenak dan melihat
ke arah perempuan itu, menanti jawaban atas keheranannya.
“Rosa, kamu naruh kaktusnya di mana
?”. Perempuan itu bertanya sambil menatap lembut mata adik kecil itu, mengalihkan
perhatiannya yang sempat bercokol pada layar hape yang mulai berbunyi sekali
lagi.
“Itu di sana, Rosa taruh di bawah
atap biar dia gak kepanasan, Rosa juga udah rajin nyiram, ngasih dia minum biar
gak kehausan kak, tapi lihat deh..” Anak kecil itu berkata sambil menunjuk
sebuah tempat teduh di bawah atap rumahnya sebelum tertunduk sedih melihat
bunga kaktus di tangannya yang tak sesuai dengan harapan.
Perempuan
itu tersenyum.
“Rosa, bunga kaktus itu tempatnya
bukan di tempat yang dingin dan lembab seperti di bawah atap itu tapi di tempat
yang panas terkena matahari. Tuh di sebelah bunga teratainya Rosa itu.” Perempuan
itu berkata sambil menunjuk satu pot bungai teratai di teras terbuka yang
terpanggang sinar matahari.
“Tapi kak, teratainya Rosa di situ
juga mau mati gitu. Rosa gak mau nanem lagi ah, bunga Rosa gak ada yang mekar.”
“Sayang, sini deh...” perempuan itu
memegang kedua bahu Rosa dan menatap kedua bola mata bundar yang mulai berkaca
– kaca. “... dengerin kakak. Bukan salah bunganya atau salah Rosa yang gak bisa
nanem. yang perlu Rosa tahu cuma tempatnya. Bunga itu akan mekar kalau Rosa
rawat sesuai tempatnya.”
“Oh gitu ya kak, bener ya? yee bunga
Rosa bakalan mekar. Kaktus Rosa mekar, teratai Rosa mekar. Yee!!”
Anak kecil itu begitu girang, dengan
harapan penuh segera menukar tempat bunga kaktus dengan teratai yang terkena
panggangan sinar matahari, sedang perempuan itu terdiam, tersentak atas apa
yang baru saja di dapatnya dari pertanyaan seorang anak kecil.
Tempat, ya, itu yang selama ini ia
cari. Pertanyaan itu yang selama ini bersembunyi dalam palung laut hatinya, tak
menyangka akan muncul begitu saja ke permukaan oleh pancingan seorang anak
kecil. Place is the only problem for her now. Seandainya saja dia tahu di mana
harus memposisikan seseorang yang sedang bergeming di pikirannya saat ini.
Segalanya pasti akan baik –baik saja. Seperti kaktus dan teratai yang akan
mekar pada tempatnya.
Tapi tempat yang seperti apa ?
Sayangnya, tidak ada ilmu biologi untuk sekedar memahami sebuah adaptasi
perasaan. Sebuah teori yang bisa diaplikasikan dalam penempatan sebuah perasaan.
Uhuu
Uhuu Uhuu
Jam burung hantu mulai beruhu uhu
nyaring. Sudah satu jam perempuan itu berbicara dengan intuisinya, meniti
setiap sel – sel cortex yang terkenal sebagai pabrik pembuatan logika manusia. Perempuan
itu menoleh ke sumber suara, memandangi ukiran bentuk burung hantu yang sangat
tidak proporsional. Hadiah ulang tahun papa kepada mama tercintanya. Sungguh,
hasil pemahatan jam itu tidak bisa mempresentasikan keseluruhan cinta yang
mampu menghadirkan dia dan adiknya ke dunia ini.
Sel – sel cortex perempuan itu mulai
bekerja, memberitahu bahwa perasaan itu abstrak, bahkan seorang seniman
terkadang hanya bisa mengungkapkannya lewat gambar maupun intonasi not not
balok yang hanya mempresentasikan sebagian kecil dari seluruh kerumitan
perasaan. Mempresentasikannya dalam sebuah gambar yang hanya bisa menyuguhkan
bidang dua dimensi dari keseluruhan seratus dimensi perasaan.
Perempuan itu bangkit berdiri.
Sepertinya lambung beserta ususnya mulai menggeliat meminta jatah energi yang
habis terpakai untuk memahami intuisinya, keabstrakan yang indah sekaligus
menjengkelkan.
Belum, belum ada solusi, saat ini
semuanya masih berhenti pada sebuah rumusan masalah. Tugasnya kali ini masih
berlanjut untuk menemukan atau mungkin membuat tempat yang sesuai untuk
perasaannya saat ini.
Luss~

