Sabtu, 13 Desember 2014

TRANSCENDENTAL




            Panas terik matahari memanggang bumi di siang hari itu. Perempuan berambut lurus dengan kuncir kuda sedang terduduk di sebuah kursi kayu. Kedua tangannya memutar - mutar benda persegi berwarna putih sedang dagunya menempel pada permukaan meja kayu bundar di depannya. 

            Layar hapenya menyala, memunculkan sebuah box putih bertuliskan Deren dan sebuah pesan singkat yang masih enggan di bukanya. Deren, entah bagaimana lelaki berparas batak dengan sedikit darah perancis itu dapat mengambil alih sebagian kesadarannya.  Dua kali purnama ia menghabiskan waktunya bersama Deren, selama itu pulalah sinkronisasi itu terjadi, seakan ujung – ujung kabel mereka selalu berada di tempat yang tepat, beberapa menyambung sementara sebagian yang lain menjauh dengan sendirinya seakan mengantisipasi terjadinya konslet. Belum pernah ia bertemu dengan makhluk seperti ini.

            Kesinambungan itu yang membuat Deren belum mendapatkan tempat yang cocok di kehidupan perempuan itu. Deren bukan hanya sekedar teman, dia lebih dari sekedar definisi teman yang sesungguhnya. Cinta ? tidak, bukan seperti ini perasaan cinta. Jika bisa diukur dengan 0 sebagai teman dan 10 sebagai cinta, mungkin Deren berada pada semua posisi itu dalam satu waktu tapi tak jarang juga ia berfluktuasi.

            Halaman rumah berornamen jawa itu begitu luas, sehingga dari depan, teras itu seperti berada di tengah – tengah hutan tropis. Perempuan itu mengangkat dagunya yang sedari tadi menempel pada meja untuk sekedar mengecek jam coklat tua berbentuk burung hantu dengan satu sayap yang lebih terlihat seperti sayap ayam, melekat pada dinding berpelitur coklat tua. Warnanya yang senada membuat jam itu seakan bersatu dengan dinding. 12.00 pantas cahaya matahari begitu ganas. 

            “Kak , kenapa bunga Rosa berubah warna jadi coklat ?”

            Seorang anak kecil dengan wajah cemberut datang menghampiri perempuan itu sambil membawa bunga kaktus dalam sebuah pot yang mulai tampak layu. Kaos putihnya tak lagi menjadi putih bersih terkena noda – noda tanah, terlihat sekali betapa keras usahanya merawat tanaman itu. Rok merahnya terlihat basah oleh tumpahan air dari kendi penyiram di tangan kanannya.

            “Liat kak, durinya jadi gak tajem, warnanya coklat, bunganya malah mau mati padahal Rosa gak pernah lupa buat nyiramin kaktus ini kak.” Anak kecil itu tetap berdiri, diam sejenak dan melihat ke arah perempuan itu, menanti jawaban atas keheranannya.

            “Rosa, kamu naruh kaktusnya di mana ?”. Perempuan itu bertanya sambil menatap lembut mata adik kecil itu, mengalihkan perhatiannya yang sempat bercokol pada layar hape yang mulai berbunyi sekali lagi.

            “Itu di sana, Rosa taruh di bawah atap biar dia gak kepanasan, Rosa juga udah rajin nyiram, ngasih dia minum biar gak kehausan kak, tapi lihat deh..” Anak kecil itu berkata sambil menunjuk sebuah tempat teduh di bawah atap rumahnya sebelum tertunduk sedih melihat bunga kaktus di tangannya yang tak sesuai dengan harapan.

Perempuan itu tersenyum.

            “Rosa, bunga kaktus itu tempatnya bukan di tempat yang dingin dan lembab seperti di bawah atap itu tapi di tempat yang panas terkena matahari. Tuh di sebelah bunga teratainya Rosa itu.” Perempuan itu berkata sambil menunjuk satu pot bungai teratai di teras terbuka yang terpanggang sinar matahari.

            “Tapi kak, teratainya Rosa di situ juga mau mati gitu. Rosa gak mau nanem lagi ah, bunga Rosa gak ada yang mekar.” 

            “Sayang, sini deh...” perempuan itu memegang kedua bahu Rosa dan menatap kedua bola mata bundar yang mulai berkaca – kaca. “... dengerin kakak. Bukan salah bunganya atau salah Rosa yang gak bisa nanem. yang perlu Rosa tahu cuma tempatnya. Bunga itu akan mekar kalau Rosa rawat sesuai tempatnya.”

            “Oh gitu ya kak, bener ya? yee bunga Rosa bakalan mekar. Kaktus Rosa mekar, teratai Rosa mekar. Yee!!”

            Anak kecil itu begitu girang, dengan harapan penuh segera menukar tempat bunga kaktus dengan teratai yang terkena panggangan sinar matahari, sedang perempuan itu terdiam, tersentak atas apa yang baru saja di dapatnya dari pertanyaan seorang anak kecil.

           Tempat, ya, itu yang selama ini ia cari. Pertanyaan itu yang selama ini bersembunyi dalam palung laut hatinya, tak menyangka akan muncul begitu saja ke permukaan oleh pancingan seorang anak kecil. Place is the only problem for her now. Seandainya saja dia tahu di mana harus memposisikan seseorang yang sedang bergeming di pikirannya saat ini. Segalanya pasti akan baik –baik saja. Seperti kaktus dan teratai yang akan mekar pada tempatnya.

            Tapi tempat yang seperti apa ? Sayangnya, tidak ada ilmu biologi untuk sekedar memahami sebuah adaptasi perasaan. Sebuah teori yang bisa diaplikasikan dalam penempatan sebuah perasaan.

            Uhuu Uhuu Uhuu
 
            Jam burung hantu mulai beruhu uhu nyaring. Sudah satu jam perempuan itu berbicara dengan intuisinya, meniti setiap sel – sel cortex yang terkenal sebagai pabrik pembuatan logika manusia. Perempuan itu menoleh ke sumber suara, memandangi ukiran bentuk burung hantu yang sangat tidak proporsional. Hadiah ulang tahun papa kepada mama tercintanya. Sungguh, hasil pemahatan jam itu tidak bisa mempresentasikan keseluruhan cinta yang mampu menghadirkan dia dan adiknya ke dunia ini.

            Sel – sel cortex perempuan itu mulai bekerja, memberitahu bahwa perasaan itu abstrak, bahkan seorang seniman terkadang hanya bisa mengungkapkannya lewat gambar maupun intonasi not not balok yang hanya mempresentasikan sebagian kecil dari seluruh kerumitan perasaan. Mempresentasikannya dalam sebuah gambar yang hanya bisa menyuguhkan bidang dua dimensi dari keseluruhan seratus dimensi perasaan.

            Perempuan itu bangkit berdiri. Sepertinya lambung beserta ususnya mulai menggeliat meminta jatah energi yang habis terpakai untuk memahami intuisinya, keabstrakan yang indah sekaligus menjengkelkan.

            Belum, belum ada solusi, saat ini semuanya masih berhenti pada sebuah rumusan masalah. Tugasnya kali ini masih berlanjut untuk menemukan atau mungkin membuat tempat yang sesuai untuk perasaannya saat ini.

                                                                                                                  Luss~

Selasa, 02 Desember 2014

dix-neuf




Di titik ini, seluruh organ beserta jaringan dan setiap satu unit sel di dalamnya mulai merenung bersama hujan yang terasa sama namun berbeda.
Merenung dalam bias mentari yang sama.
Tentang sebuah transformasi ulat yang bersayap
Tentang anak burung yang mulai pergi meninggalkan sarangnya
Tentang hari di mana kumbang menemukan bunganya dan bunga ditemukan olehnya
Dalam hujan yang terasa sama namun berbeda, setiap sel bekerja sama menghadirkan partikel demi partikel perjalanan 19 tahun darah mendesir dalam jalur yang semakin panjang. Tentang mimpi yang harus dikejar, tentang cinta, kekaguman dan kepedihannya.
Tetap dalam bias mentari yang sama.,,,


~24th of November 2014, it has been 19 years since the first day I opened my eyes to see this beautiful world~

Kamis, 25 September 2014

Diamond



Hari ini, aku menyadari banyak hal.. 
Menyadari bahwa aliran sungai ini telah sampai pada sebuah samudera dan aku telah jauh tenggelam dalam gelombangnya. Di dasar samudera ini, aku menemukan sebuah berlian. Aku telah mengamatinya dari radius ini. Jarak pandang terbaik untuk melihat keindahannya. 
......
Aku mengamatinya setiap hari, semakin hari semakin tercengang dengan perubahan warnanya. Tapi ada satu warna yang membuatku berhenti di satu tempat untuk waktu yang lama, satu warna yang membuatku menjatuhkan mata ini tepat pada satu titik. Merah.. Entah sudah berapa lama aku berhenti di sini dan sudah berapa kali gelombang ombak menerpa. Satu hal yang pasti, aku sedang tidak ingin berpindah tempat karena tepat di titik ini, aku bisa menangkap bias warna merah berkilauan dengan secercah warna pelangi di sekitarnnya.
......
Hari ini, sapuan gelombang laut begitu kuat, mampu menggeser pandanganku  menuju seseorang di ujung sana. Dia tengah melakukan hal yang sama. Diam – diam mencari kilau berlian untuk sekedar dikagumi, mencari tempat terbaik untuk melihat kilau indahnya dan membuat satu garis lurus di antaranya. Ah biarlah, aku pun kembali ke rutinitasku, kembali dalam jarak pandangku, mengamati bias merah yang kini tengah menjadi caffein bagiku.
.....
Lagi – lagi, gelombang laut membuat pandanganku bergeser pada seseorang itu. Kali ini, aku terkesiap menyadari satu hal. Aku bilang berlian itu merah dan itu indah. Dia berteriak bahwa berlian itu berwarna hijau dan itu indah.  Tercengang, aku menertawakan diriku sendiri yang tengah terduduk di satu tempat, bertahan dari terpaan gelombang samudera agar radius ini tidak berubah, agar aku tetap bisa mendapatkan merah. Sedang seseorang di sana, bertahan dalam jarak pandangnya, membuat garis lurus pada biasan hijau yang menurutnya indah. 
.....
Aku mulai bangkit perlahan, mengikuti gelombang ombak ini. Mataku sudah lelah terfokus pada satu titik. Merah yang telah menjadi caffein bagiku, aku tidak ingin merubahnya menjadi morphin yang akan mematikan seluruh kesadaranku, melumpuhkan syaraf motorikku dan menjebakku di titik ini. Perlahan, aku berjalan mengikuti gelombang air laut.  Berlian itu masih di sana dengan bias – bias kilaunya. Seseorang di ujung sana telah menyadarkanku tentang sebuah konsep keindahan. Keindahan yang hanya bisa dipandang dari radius tertentu bukan untuk digenggam. 
.....
Aku kembali berjalan, di samping seseorang itu aku melihat berlian dengan bias cahaya hijaunya. Dia mengatakan padaku bahwa hijau ini indah. Aku hanya tersenyum, kembali berjalan mengikuti gelombang ini. Mungkin di ujung yang lain, ada banyak orang yang tengah mengaguminya dengan bias warna yang berbeda. Karna itu adalah berlian. 
....
Aku sudah terlalu lama menatap pada satu titik dan aku mulai mengedarkan pandanganku, mencoba mencari bentuk keindahan yang lain tapi kini dengan cara pandang yang baru.
Seseorang di ujung sana menyadarkanku bahwa terkadang kita menemukan sebuah persamaan dari sudut pandang yang berbeda. Membuat sebuah kesimpulan yang sama dari daftar chekclist yang sama sekali berbeda.

                                                                                                                                    ~Luss~
Le Lundi
22 September 2014

Minggu, 14 September 2014

Cocoon

Hav you ever feel when the moving area right in front of you ?..
When everything start changing and going worst..
All never be the same when one of your family can't breathe anymore..
It was my grandad..
Satu batu - bata yang terlepas tapi mampu menggoyahkan sebuah bangunan yang kelihatannya kokoh..

Martin said: "My father-in-law Bruce Paltrow bought this big keyboard just before he died. No one had ever plugged it in. I plugged it in, and there was this incredible sound I'd never heard before. All these songs poured out from this one sound. Something has to inspire you, and something else takes over. It's very cloudy." Martin also noted that the song is "probably the most important song we've ever written". (Cold Play - Fix You)

Seperti Martin mungkin aku akan merasakannya. Tidak ada yang mau meninggalkan zona nyaman, Meninggalkan tempat di mana aku biasa bersarang dan memetaskan telur - telur imajinasiku. Meninggalkan kebiasaan dan segala macam metamorfosis selama kurang lebih delapan belas tahun. Delapan belas tahun dalam sarang kepompong.. Bahkan kali ini, aku tidak ingin berpikir apakah aku sudah cukup menjadi kupu - kupu untuk meninggalkan kepompong itu. Segalanya begitu mendadak, so many things i want to do in my cocoon before i move into my grandma's house.
 
Moving to my grandma's house still a plan. I don't know wether it will be or not. I don't even know which one is the best and not. But jut thinking about it make me sad.

Tapi, kenapa aku tidak mencobanya.. mungkin saja aku akan menemukan 'song' ku di sini seperti Martin yang menemukan keajaiban ketika ia memulai untuk mem-plugged keyboard peninggalan itu.
Though it's hard to leave my beloved cocoon :')
                                                                                                                                             ~Luss~
 

Rabu, 20 Agustus 2014

Hujan dan Labirin

Hujan kedua di bulan Agustus ..
dan hujan pertama dalam perjalananku menapakkan kaki ini di kerajaan sastra..
I told you before that i would enjoy my climb and the views..
and here I am..
Terjebak dalam hutan kata - kata di kerajaan sastra..
Baru saja aku terdampar di sini tapi aku seperti telah lama melebur  dalam gelombangnya..
Kali ini aku ingin berbicara tentang takdir dan rahasia Tuhan ...
Tentang arus sungai yang telah Ia berikan pada setiap makhluknya..
dan kini aku berada dalam arus itu..

Aku setuju dengan seorang "Dee" dalam Madrenya ~Ingatan Tentang Kalian~
(cinta dan sahabat... sahabat dan cinta.. itulah jiwa yang terpecah dengan sederhana.. sisanya fana)

Aku sependapat dengan itu..
Seperti pemikiranku tentang jodoh..
Mungkin aku telah meninggalkan putih abu - abuku bersama cinta yang bersemayam di dalamnya..
Tapi aku masih membawa sebentuk perisai sebagai senjataku ...
Agar aku tidak kehilangan jati diri dalam cinta itu sendiri..
Agar aku tidak lagi mencari dan berenang melebihi arus hingga tenggelam..
Kali ini tidak..
Mungkin dulu mereka bersembunyi dalam rentang pencarianku..
Kemudian satu persatu muncul dan mungkin beberapa menyerah..
Tapi suatu saat nanti ada kalanya aku dan dia berserah dalam irama yang diberikan oleh cinta dalam setiap degup jantung yang berbeda tapi satu..
Kali ini aku seperti menemukannya...
Entahlah .. atau mungkin hanya persinggahan di perjalanan panjangku..
Segalanya masih begitu abstrak..
Tapi saat semuanya tak lagi abstrak, seperti nostalgia.. aku akan merasakannya ...
Hidup ini seperti permainan labirin di mana aku terlahir untuk menemukannya dan dia terlahir untuk menemukannku ...
Saat segalanya tidak lagi abstrak kata tidak lagi penting .. hanya rasa ..
Karna kita pernah bertemu .. tanpa nama dan rupa.. kemudian berpisah dalam rahim yang berbeda..selanjutnya terlahir dalam labirin kehidupan dan berakhir dengan kita..   

Hari ini.. melihatnya..aku terjebak bersama hujan dan keabstrakan.. Sudahlah..  aku hanya ingin mengalir mengikuti arus yang sudah diberikan oleh-Nya kepadaku.. percaya pada arus yang entah akan membawaku padanya atau tidak.. ~Cogond~


                                                                                                                                        ~Luss~
21:56
200814
Le Mercredi

Minggu, 10 Agustus 2014

Serve in The Rain

Hai kalian para pemuja hujan...
kali ini aku ingin membuat sedikit pengakuan dalam perjalananku memuja setiap butir air yang mengehempas setiap inci permukaan bumi... menyimpan tetesan memori tersendiri..
Aku sempat merasa menjadi seorang pengkhianat, sedikit berkhianat pada pengabdianku untuk rintik hujan.
Aku tidak mengerti tentang aku atau keadaan yang berubah..
Bukan aku membenci hujan .. aku masih memujanya seperti dulu .. hanya saja setahun ini aku memujanya tanpa ingin terbasahi..
Keadaan yang berbanding terbalik dengan aku yang masih mengenakan seragam putih merahku..
sangat berbanding terbalik dengan aku yang menunggu rintiknya menghempas tanah bersama seragam putih biruku..
Karna di tahun kedua aku mengenakan seragam putih abu - abuku aku mulai merasa berubah ...
entahlah, aku tidak bisa membedakan antara rasional dan berubah menjadi bukan diriku sendiri ...
Karna saat rintiknya kembali menerpa permukaan bumi aku mulai berpikir seratus kali untuk menari di bawahnya.. memikirkan nasib hari esok.. tugas.. seragam .. kesehatan.
Kemudian aku masih memuja hujan dalam diam tanpa menyentuhnya..
ada sebersit keinginan untuk kembali berdansa di bawahnya .. tapi entah itu keadaan atau pikiran rasionalku yang membiarkanku tetap bergeming..
Kemudian aku mulai memuja hujan dalam diam gelombang sajakku tanpa berani menari di bawahnya seperti dulu..
Ya, saat itu beginilah caraku memujanya, tidak lagi menari di bawahnya, hanya mengaguminyanya dalam diam, memandang butiran air bersama dengan gemericiknya..
merekamnya dalam setiap gelombang sajakku.. berpikir apakah aku akan semakin berubah..

Tapi hari ini, sepertinya hujan merindukanku sama seperti separuh diriku yang lain..
Sekali lagi, pikiran rasionalku membuatku berhenti pada emper sebuah toko untuk sekedar berlindung dari guyuran hujan.. tapi kemudian hanya enam menit berselang rintiknya semakin jarang kemudian hilang membuatku kembali mengendari sepeda motorku..
Tapi kali ini tanpa pertanda sang hujan datang menyerbu permukaan bumi dan aku, airnya mulai menyelimuti outer blue jeans ku..  ya kali ini aku sudah tak mengenakan seragam :')
Akhirnya, setelah sekian lama, aku kembali menari di bawah hujan
kembali aku bercengkrama langsung dengannya ... setiap satu rintiknya saat itu mewakili satu kisah lama..
Nostalgia, hal yang selalu hujan berikan dalam aroma basahnya.. Seutuhnya aku merasa menjadi diriku sendiri.. bersatu dalam derasnya.. bebas tanpa beban apa - apa ..
Setelah sekian lama menghindarinya ..

Kini aku mengetahui satu hal, bukan aku yang berubah menjadi orang lain..
tapi keadaan yang membuat semuanya berubah... mengubah pikiran masa bodoh..
waktu yang membuat aku merasa menjadi seperti seorang penghianat yang sebenarnya bukan...
Aku hanya mulai bertanggung jawab terhadap diriku sendiri.. dan aku tetap menjadi diriku sendiri.. aku menemukannya hari ini, di bawah guyuran hujan.. selanjutnya aku akan tetap seperti ini..
Sekarang aku tidak khawatir terhadap perubahan itu.. 
Hujan kali ini menunjukkan padaku bahwa yang aku perlukan hanyalah mengikuti apa yang aku mau tanpa kehilangan rasa tanggung jawab terhadap diriku sendiri.

ya pengabdianku pada hujan tidak akan mengurangi rasa tangung jawab itu.

Le Vendredi 8 Aout 2014                                                                                              ~Luss~


Jumat, 01 Agustus 2014

Kehidupan dari Perjalanan si 'BIMO'

Hai...
Selamat datang di bulan Agustus. Tigabelas hari lagi aku akan memulai petualanganku di dunia perkuliahan. Tapi sebelumnya, aku baru saja mengakhiri petualanganku tepat pada penghabisan bulan Juli.
pergi ke Pantai Bajul Mati, nama yang cukup mengerikan untuk sebuah pantai yang indah.
ya, kata orang - orang pantai itu indah.

Berangkatlah aku dan keluarga besarku pergi melancong ke sana dengan 'bimo' (mobil toyota hiace hijau yg cukup untuk mengangkut 15 orang) sebagai pengangkut setia kami. Seperti biasa papaku yang bertugas mengendalikannya. Hanya sepupuku satu - satunya orang yang pernah mengarungi medan ini sebelumnya. Ia pun sudah berkata bahwa medannya tidak akan terlalu berat untuk dilalui. Awal perjalanan cukup lancar dan menyenangkan walaupun 'bimo' sempat berhenti sejenak dengan mobil - mobil lain dan hawa panas macet mulai terasa. Pada menit keenampuluh setelah keberangkatan, 'bimo' pun mulai menapaki daerah pegunungan. Udaranya yang sejuk mulai terasa mengusir hawa panas kemacetan.

Udara pegunungan, aku selalu menyukai udara pegunungan hampir mirip seperti udara di musim penghujan. Dingin tapi tidak mencekam.

Setelah lama berjalan, medan yang sedari tadi dipertanyakan mulai terlihat. Gunung mulai menampakkan liarnya. Kali ini 'bimo' harus berjuang meliuk - liuk pada tanjakan panjang bersama empat belas orang termasuk aku di dalamnya. Alur yang harus kami ikuti begitu panjang dang sangat berkelok. Cacing - cacing di perutku mulai berada pada posisi tak nyaman. Aku tidak pernah menyangka sepanjang ini tanjakan yang akan kami tempuh. Begitu juga dengan 'bimo'. Sepertinya ia ngambek atau mungkin terlalu lelah aku tidak tahu pasti. Tepat selesai tanjakan panjang yang pertama 'bimo' diam. Sedangkan lima belas langkah di belakang kami adalah jalanan turun dengan jurang di kanan - kirinya. Rasanya aku ingin segera meloncat ke luar mobil saat itu juga. Selama sepuluh menit itu aku hanya terus memohon keselamatan dan kelancaran kami sedangkan papa berusaha membujuk 'bimo' sambil mengotak - atik sedikit mesinnya. Setelah sepuluh menit yang cukup menegangkan, 'bimo' pun akhirnya kembali menapaki lika - liku yang telah dipersiapkan sang gunung.. Sampai akhirnya kami berada pada sebuah persimpangan (limakilometer ke arah sendang biru - masih ada berkilo - kilometer menuju Pantai Bajul Mati- dan Pantai Tamban 2,5 km). Mempertimbangkan keselamatan 'bimo' yang berarti keselamatan kita juga akhirnya papa pun membawa 'bimo' menuju Pantai Tamban. Lagi pula jarum jam sudah tertidur dalam dekapan angka satu dan matahari sedari tadi mulai memanggang 'si bimo' beserta isinya.
Memasuki daerah wisata Pantai Tamban rasanya cukup asing, melewati perkampungan sepi, hanya ada beberapa sepedah motor dan satu mobil yang berlawanan arah dengan kami. Sedikit sanksi juga. Tapi, hanya dalam hitungan menit aku mulai bisa mendengar desiran ombak, salah satu nyanyian alam terindah setelah gemerisik hujan. Keraguanku terjawab setelah biru laut dan pegunungan hijau yang mengitarinya tertangkap di kamera mataku. Aku tidak merasakan panas yang menyengat di sini, udaranya cukup hangat bahkan angin laut siang itu lama - kelamaan membuatku merasa sejuk. Tidak ada kata panas untuk pantai ini dan yang terpenting not crowded adalah hal terlangka dan termahal yang bisa didapatkan pada musim liburan seperti ini.
Perjalanan pulang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku bisa melihat keindahan lukisan pegunungan ini, jurang yang tadi terasa mencekam sekarang terasa begitu indah, goa - goa terpajang dengan angkuhnya di sebelah kiri jalan dan matahari mulai mewarnai langit dengan warna senjanya. Aku bersyukur kali ini 'bimo' membawa kami meniti turunan panjang dengan lancar. Mungkin dia telah mengetahui medan yang ditempuhnya atau mungkin dia sudah sehat kembali setelah menikmati semilir angin Pantai Tamban, entahlah tapi yang jelas kali ini 'bimo' sedang tersenyum sumringah mengemban kewajibannya membawa kami pulang dengan selamat. Seperti aku, 'bimo'pasti mulai menikmati indahnya pemandangan alam.

Petualanganku kali ini memberikan aku sebuah pelajaran hidup. Perjalananku bersama 'bimo' meniti gunung seperti perjalanan manusia meniti puncak kesuksesan. Panjang, berat, dan berliku - liku. Terkadang konsentrasi kita dalam menaklukkan medan berat itu membuat kita lupa untuk menikmati anugerah di setiap perjalanannya. Seperti si 'bimo' di awal perjalanan mungkin ia lupa untuk sekedar menengok, menikmati pemandangan indah yang akan membuat perjalanan terasa lebih santai dan menyenangkan.
Kesuksesan seseorang juga tidak bisa diukur dengan seberapa banyak ia mampu mengarungi medan seperti yang lainnya melainkan tentang kebijaksanaan, kecerdasan , meredam ego, dan bersyukur. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya 'bimo' jika kami tetap memaksanya menuju Pantai Bajul Mati. Mungkin kami baru akan sampai ke sana pukul 3 sore dan aku tidak akan bisa menikmati kesunyian pantai seutuhnya seperti di sini. Bahkan mungkin aku tidak akan pernah bisa sampai ke sana. who knows.
Yang jelas aku bersyukur tentang kebijaksanaan pikiran yang membawa aku, 'bimo' dan keluarga besarku menikmati ketenangan Pantai Tamban...

Teringat kata Hannah : "Life is a climb but the view is great" - Hannah Montana
Pengalaman ini akan menjadi peganganku tiga belas hari mendatang sebagai mahasiswa baru. Mungkin aku memang tidak tahu dengan pasti medan apa yang aku tempuh, hanya mendengarnya dari cerita orang -orang. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan lupa menemukan anugerah keindahan di setiap perjalananku nanti.
                                                                                                                      

                                                                                                                                       ~Luss~

Minggu, 13 Juli 2014

nostalgia lama

Hari ini aku merasakan sesuatu yang patut untuk disyukuri
mungkin, kalian pernah merasakan bagaimana rasanya berjumpalitan di atas trampolin..
tapi bukan itu yang aku rasakan sekarang..
aku senang bahkan mungkin bahagia tapi masih tetap menginjak tanah,
bukan berjumpalitan tapi sekedar berbaring di atas nina bobo trampolinku
sangat nyaman..
keadaan yang tenang tapi tidak bosan..
bahagia tapi tidak jumawa..
sesuatu itu ada tapi tidak memaksa ...
hanya terus mengalir sambil menikmati alirannya,
tak perlulah mengetahui ujungnya, karena sebuah penghujung pasti akan diketahui pada saatnya..
kali ini, seperti mengalir dengan alas daun eceng gondok
aku bisa merasakan dingin air yang kapan saja bisa menenggelamkanku..
tapi tetap percaya bahwa eceng gondok ini akan tetap membuatku mengapung selama aku tetap menjaganya..
dan tentu saja meminta pertolonganNya saat aliran air ini semakin deras menuju batuan terjal..
....
Beginilah rasanya, sebuah perasaan yang dianugerahkan untukku tapi tetap dalam ranah kuasaNya.

                                                                                                                                      "Luss"

Sabtu, 12 Juli 2014

About my Petrichor

hai
actually i'm not really new comer
dulu pernah punya blog tapi gak pernah dirawat jadinya ngilang
but at this time
i will take care of it well XD
'rencananya' blog ini akan berisi tentang pelajaran hidup,  klasik sih
but i just wanna share my opinion
I give it named Petrichor, the scent of rain on dry earth
menurutku hidup ini seperti siklus air
pada awalnya kita berada pada punjak kejayaan
dalam posisi seorang bayi segalanya terasa begitu mudah
kemudian satu persatu rintangan muncul dalam sebuah garis perjalanan kita menjadi sosok yang lebih sempurna
sampai titik di mana kita menuju tujuan hidup, sebuah rintangan terberat menghadang...
....
seperti siklus air, semuanya berawal pada titik puncak..
kebeningan dan kesejukan mendominasi..
dan akan tiba saatnya air mengalir menuju hilirnya melewati akar - akar pohon bebatuan terjal dan rintangan lain
sampai ia berada pada tempat di mana seharusnya ia berada
terombang - ambing dalam gelombang laut dan terpanggang bara surya
tapi kemudian dia menguap, ketenangan dan kesejukan mendominasi
lalu menyebar melalui rintik - rintik hujan hingga siklus baru terlahir kembali
kali ini di tempat yang berbeda, esok dan seterusnya
siklus itu abadi tapi satu butiran air tidak akan pernah menyentuh segumpal tanah yang sama
begitulah sebenarnya hidup
segala sesuatunya melewati proses yang sama hanya saja waktu dan kondisi tidak akan pernah sama.

..
satu lagi tentang petrichor, singkatnya bau tanah setelah hujan, bau basah yang mendamaikan dan merindukan
seperti hidup yang menyisakan sebuah kenangan di setiap alur pejalanannya.
..
dan di blog ini aku ingin membagikan petrichor itu dengan caraku sendiri
i hope you like it :)

                                                                                                                           ~Luss ~