Sabtu, 31 Desember 2016

#3 Mari Bercerita



Kau kembali menyapa, setelah sekian lama. Bertanya apakah aku baik baik saja. Kuberikan senyum terbaik yang kulatih ratusan kali tiap ku teteskan air mata. Agar tiap ku bersedih aku bisa tetap tersenyum. Dan saat ini kuberikan senyum itu kepadamu. Tanpa kamu pernah tau semenjak itu aku tidak pernah baik baik saja. Aku hanya mulai terbiasa.
Aku pernah percaya pada semesta. Menitipkan segala rasa pada udara yang kuhela, pada tanah yang kupijak, lautan yang kusapa, pada awan, pada hujan, pada malam, pada siang, pada senja. Aku pernah percaya pada semesta. Jikalau aku berserah semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata semesta tak sehebat yang aku kira. Tak sebenar yang aku pahami sebelumnya.
Jika dalam hidup itu ada yang dinamakan memilih. Bersamamu itu tidak berlaku. Tak pernah aku memilih untuk terjatuh. Tak bisa aku memilih untuk biasa saja. Seakan semesta membuatku sedemikian rupa merasa. Untuk apa? Untuk menyulam cerita? Tapi lalu bagaimana jika usai ini aku tak sanggup lagi bercerita. Bagaimana? Apa semesta tidak memperkirakan kemungkinan-kemungkinannya. Apa semesta tidak mempersiapkan risiko-risikonya?
Aku pernah percaya pada semesta. Menitipkan suara pada udara. Menitipkan nyanyian pada ombak. Menitipkan harap pada semburat senja. Menitipkan bahagia pada arakan awan dan air mata pada tetes-tetes hujan.
Dan lalu, aku sungguh keliru. Kudapati diriku tak ubah seperti karakter dalam sebuah dongeng film-film kartun. Didandani sedemikian rupa lalu dilepas ditengah tengah alur cerita yang sudah disetting dengan ending yang aku sendiri tak pernah memilihnya. Aku pernah percaya pada semesta. Tapi lalu kutemukan bahwa di jalan ceritanya aku tidak pernah menjadi pemeran utama. Haha lucu.
 Aku pernah percaya pada semesta yang selalu mengajakku berbicara. Mengenai isyarat hujan, isyarat awan, udara, senja. . dan kini seakan membisu, ke mana arah angin bertiup pun dia tidak tahu.
Dan lalu, tak ada lagi air mata yang kutitipkan pada hujan. Tak ada lagi harap yang kulukis di kanvas langit senja. Biarkan ku membangun semesta kecilku sendiri. Biarkan kali ini aku memilih dongengku sendiri. Terimakasih kuucapkan pada semesta yang payah.
Dan apakah aku baik-baik saja? Aku hanya terbiasa :)  (luss)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar