Kau
kembali menyapa, setelah sekian lama. Bertanya apakah aku baik baik saja.
Kuberikan senyum terbaik yang kulatih ratusan kali tiap ku teteskan air mata.
Agar tiap ku bersedih aku bisa tetap tersenyum. Dan saat ini kuberikan senyum
itu kepadamu. Tanpa kamu pernah tau semenjak itu aku tidak pernah baik baik saja.
Aku hanya mulai terbiasa.
Aku
pernah percaya pada semesta. Menitipkan segala rasa pada udara yang kuhela,
pada tanah yang kupijak, lautan yang kusapa, pada awan, pada hujan, pada malam,
pada siang, pada senja. Aku pernah percaya pada semesta. Jikalau aku berserah
semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata semesta tak
sehebat yang aku kira. Tak sebenar yang aku pahami sebelumnya.
Jika
dalam hidup itu ada yang dinamakan memilih. Bersamamu itu tidak berlaku. Tak
pernah aku memilih untuk terjatuh. Tak bisa aku memilih untuk biasa saja.
Seakan semesta membuatku sedemikian rupa merasa. Untuk apa? Untuk menyulam
cerita? Tapi lalu bagaimana jika usai ini aku tak sanggup lagi bercerita. Bagaimana?
Apa semesta tidak memperkirakan kemungkinan-kemungkinannya. Apa semesta tidak
mempersiapkan risiko-risikonya?
Aku
pernah percaya pada semesta. Menitipkan suara pada udara. Menitipkan nyanyian
pada ombak. Menitipkan harap pada semburat senja. Menitipkan bahagia pada
arakan awan dan air mata pada tetes-tetes hujan.
Dan lalu, aku sungguh keliru. Kudapati diriku tak
ubah seperti karakter dalam sebuah dongeng film-film kartun. Didandani
sedemikian rupa lalu dilepas ditengah tengah alur cerita yang sudah disetting dengan
ending yang aku sendiri tak pernah memilihnya. Aku pernah percaya pada semesta.
Tapi lalu kutemukan bahwa di jalan ceritanya aku tidak pernah menjadi pemeran
utama. Haha lucu.
Aku pernah percaya pada semesta yang selalu mengajakku berbicara. Mengenai isyarat
hujan, isyarat awan, udara, senja. . dan kini seakan membisu, ke mana arah angin
bertiup pun dia tidak tahu.
Dan
lalu, tak ada lagi air mata yang kutitipkan pada
hujan. Tak ada lagi harap yang kulukis di
kanvas langit senja. Biarkan ku membangun semesta
kecilku sendiri. Biarkan kali ini aku memilih dongengku sendiri. Terimakasih
kuucapkan pada semesta yang payah.
Dan
apakah aku baik-baik saja? Aku hanya terbiasa :) (luss)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar