Aku melihatnya. Dia yang
beberapa waktu lalu sempat kau bahas sekilas dalam percakapan kita yang
berbatas, dirampas waktu. Aku melihat bagaimana dia juga memuja tetesan air
yang turun dari langit. Dan mengapa aku
iri? Seakan aku melihat sekeping diriku tercermin di didirinya. Sekeping yang
sanggup melipat sejengkal jarak denganmu.
Waktuku tak banyak. Tinggal
enam jam lagi menuju penghujung hari. Kutuangkan dulu setangkup rindu di
cangkirku. Pahit, kau tidak akan mau. Biar saja kutelan. Habis. (luss)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar