Hari
ini, aku menyadari banyak hal..
Menyadari
bahwa aliran sungai ini telah sampai pada sebuah samudera dan aku telah jauh
tenggelam dalam gelombangnya. Di dasar samudera ini, aku menemukan sebuah
berlian. Aku telah mengamatinya dari radius ini. Jarak pandang terbaik untuk
melihat keindahannya.
......
Aku
mengamatinya setiap hari, semakin hari semakin tercengang dengan perubahan
warnanya. Tapi ada satu warna yang membuatku berhenti di satu tempat untuk
waktu yang lama, satu warna yang membuatku menjatuhkan mata ini tepat pada satu
titik. Merah.. Entah sudah berapa lama aku berhenti di sini dan sudah berapa
kali gelombang ombak menerpa. Satu hal yang pasti, aku sedang tidak ingin
berpindah tempat karena tepat di titik ini, aku bisa menangkap bias warna merah
berkilauan dengan secercah warna pelangi di sekitarnnya.
......
Hari
ini, sapuan gelombang laut begitu kuat, mampu menggeser pandanganku menuju seseorang di ujung sana. Dia tengah
melakukan hal yang sama. Diam – diam mencari kilau berlian untuk sekedar dikagumi,
mencari tempat terbaik untuk melihat kilau indahnya dan membuat satu garis
lurus di antaranya. Ah biarlah, aku pun kembali ke rutinitasku, kembali dalam
jarak pandangku, mengamati bias merah yang kini tengah menjadi caffein bagiku.
.....
Lagi –
lagi, gelombang laut membuat pandanganku bergeser pada seseorang itu. Kali ini,
aku terkesiap menyadari satu hal. Aku bilang berlian itu merah dan itu indah.
Dia berteriak bahwa berlian itu berwarna hijau dan itu indah. Tercengang, aku menertawakan diriku sendiri
yang tengah terduduk di satu tempat, bertahan dari terpaan gelombang samudera agar
radius ini tidak berubah, agar aku tetap bisa mendapatkan merah. Sedang
seseorang di sana, bertahan dalam jarak pandangnya, membuat garis lurus pada
biasan hijau yang menurutnya indah.
.....
Aku
mulai bangkit perlahan, mengikuti gelombang ombak ini. Mataku sudah lelah
terfokus pada satu titik. Merah yang telah menjadi caffein bagiku, aku tidak
ingin merubahnya menjadi morphin yang akan mematikan seluruh kesadaranku,
melumpuhkan syaraf motorikku dan menjebakku di titik ini. Perlahan, aku
berjalan mengikuti gelombang air laut. Berlian itu masih di sana dengan bias – bias
kilaunya. Seseorang di ujung sana telah menyadarkanku tentang sebuah konsep
keindahan. Keindahan yang hanya bisa dipandang dari radius tertentu bukan untuk
digenggam.
.....
Aku kembali berjalan, di samping seseorang itu aku melihat berlian dengan
bias cahaya hijaunya. Dia mengatakan padaku bahwa hijau ini indah.
Aku hanya tersenyum, kembali berjalan mengikuti gelombang ini. Mungkin di ujung
yang lain, ada banyak orang yang tengah mengaguminya dengan bias warna yang berbeda. Karna itu adalah berlian.
....
Aku
sudah terlalu lama menatap pada satu titik dan aku mulai mengedarkan
pandanganku, mencoba mencari bentuk keindahan yang lain tapi kini dengan cara
pandang yang baru.
Seseorang
di ujung sana menyadarkanku bahwa terkadang kita menemukan sebuah persamaan
dari sudut pandang yang berbeda. Membuat sebuah kesimpulan yang sama dari
daftar chekclist yang sama sekali berbeda.
~Luss~
Le Lundi
22 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar