Jumat, 01 Agustus 2014

Kehidupan dari Perjalanan si 'BIMO'

Hai...
Selamat datang di bulan Agustus. Tigabelas hari lagi aku akan memulai petualanganku di dunia perkuliahan. Tapi sebelumnya, aku baru saja mengakhiri petualanganku tepat pada penghabisan bulan Juli.
pergi ke Pantai Bajul Mati, nama yang cukup mengerikan untuk sebuah pantai yang indah.
ya, kata orang - orang pantai itu indah.

Berangkatlah aku dan keluarga besarku pergi melancong ke sana dengan 'bimo' (mobil toyota hiace hijau yg cukup untuk mengangkut 15 orang) sebagai pengangkut setia kami. Seperti biasa papaku yang bertugas mengendalikannya. Hanya sepupuku satu - satunya orang yang pernah mengarungi medan ini sebelumnya. Ia pun sudah berkata bahwa medannya tidak akan terlalu berat untuk dilalui. Awal perjalanan cukup lancar dan menyenangkan walaupun 'bimo' sempat berhenti sejenak dengan mobil - mobil lain dan hawa panas macet mulai terasa. Pada menit keenampuluh setelah keberangkatan, 'bimo' pun mulai menapaki daerah pegunungan. Udaranya yang sejuk mulai terasa mengusir hawa panas kemacetan.

Udara pegunungan, aku selalu menyukai udara pegunungan hampir mirip seperti udara di musim penghujan. Dingin tapi tidak mencekam.

Setelah lama berjalan, medan yang sedari tadi dipertanyakan mulai terlihat. Gunung mulai menampakkan liarnya. Kali ini 'bimo' harus berjuang meliuk - liuk pada tanjakan panjang bersama empat belas orang termasuk aku di dalamnya. Alur yang harus kami ikuti begitu panjang dang sangat berkelok. Cacing - cacing di perutku mulai berada pada posisi tak nyaman. Aku tidak pernah menyangka sepanjang ini tanjakan yang akan kami tempuh. Begitu juga dengan 'bimo'. Sepertinya ia ngambek atau mungkin terlalu lelah aku tidak tahu pasti. Tepat selesai tanjakan panjang yang pertama 'bimo' diam. Sedangkan lima belas langkah di belakang kami adalah jalanan turun dengan jurang di kanan - kirinya. Rasanya aku ingin segera meloncat ke luar mobil saat itu juga. Selama sepuluh menit itu aku hanya terus memohon keselamatan dan kelancaran kami sedangkan papa berusaha membujuk 'bimo' sambil mengotak - atik sedikit mesinnya. Setelah sepuluh menit yang cukup menegangkan, 'bimo' pun akhirnya kembali menapaki lika - liku yang telah dipersiapkan sang gunung.. Sampai akhirnya kami berada pada sebuah persimpangan (limakilometer ke arah sendang biru - masih ada berkilo - kilometer menuju Pantai Bajul Mati- dan Pantai Tamban 2,5 km). Mempertimbangkan keselamatan 'bimo' yang berarti keselamatan kita juga akhirnya papa pun membawa 'bimo' menuju Pantai Tamban. Lagi pula jarum jam sudah tertidur dalam dekapan angka satu dan matahari sedari tadi mulai memanggang 'si bimo' beserta isinya.
Memasuki daerah wisata Pantai Tamban rasanya cukup asing, melewati perkampungan sepi, hanya ada beberapa sepedah motor dan satu mobil yang berlawanan arah dengan kami. Sedikit sanksi juga. Tapi, hanya dalam hitungan menit aku mulai bisa mendengar desiran ombak, salah satu nyanyian alam terindah setelah gemerisik hujan. Keraguanku terjawab setelah biru laut dan pegunungan hijau yang mengitarinya tertangkap di kamera mataku. Aku tidak merasakan panas yang menyengat di sini, udaranya cukup hangat bahkan angin laut siang itu lama - kelamaan membuatku merasa sejuk. Tidak ada kata panas untuk pantai ini dan yang terpenting not crowded adalah hal terlangka dan termahal yang bisa didapatkan pada musim liburan seperti ini.
Perjalanan pulang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku bisa melihat keindahan lukisan pegunungan ini, jurang yang tadi terasa mencekam sekarang terasa begitu indah, goa - goa terpajang dengan angkuhnya di sebelah kiri jalan dan matahari mulai mewarnai langit dengan warna senjanya. Aku bersyukur kali ini 'bimo' membawa kami meniti turunan panjang dengan lancar. Mungkin dia telah mengetahui medan yang ditempuhnya atau mungkin dia sudah sehat kembali setelah menikmati semilir angin Pantai Tamban, entahlah tapi yang jelas kali ini 'bimo' sedang tersenyum sumringah mengemban kewajibannya membawa kami pulang dengan selamat. Seperti aku, 'bimo'pasti mulai menikmati indahnya pemandangan alam.

Petualanganku kali ini memberikan aku sebuah pelajaran hidup. Perjalananku bersama 'bimo' meniti gunung seperti perjalanan manusia meniti puncak kesuksesan. Panjang, berat, dan berliku - liku. Terkadang konsentrasi kita dalam menaklukkan medan berat itu membuat kita lupa untuk menikmati anugerah di setiap perjalanannya. Seperti si 'bimo' di awal perjalanan mungkin ia lupa untuk sekedar menengok, menikmati pemandangan indah yang akan membuat perjalanan terasa lebih santai dan menyenangkan.
Kesuksesan seseorang juga tidak bisa diukur dengan seberapa banyak ia mampu mengarungi medan seperti yang lainnya melainkan tentang kebijaksanaan, kecerdasan , meredam ego, dan bersyukur. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya 'bimo' jika kami tetap memaksanya menuju Pantai Bajul Mati. Mungkin kami baru akan sampai ke sana pukul 3 sore dan aku tidak akan bisa menikmati kesunyian pantai seutuhnya seperti di sini. Bahkan mungkin aku tidak akan pernah bisa sampai ke sana. who knows.
Yang jelas aku bersyukur tentang kebijaksanaan pikiran yang membawa aku, 'bimo' dan keluarga besarku menikmati ketenangan Pantai Tamban...

Teringat kata Hannah : "Life is a climb but the view is great" - Hannah Montana
Pengalaman ini akan menjadi peganganku tiga belas hari mendatang sebagai mahasiswa baru. Mungkin aku memang tidak tahu dengan pasti medan apa yang aku tempuh, hanya mendengarnya dari cerita orang -orang. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan lupa menemukan anugerah keindahan di setiap perjalananku nanti.
                                                                                                                      

                                                                                                                                       ~Luss~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar