Sabtu, 13 Desember 2014

TRANSCENDENTAL




            Panas terik matahari memanggang bumi di siang hari itu. Perempuan berambut lurus dengan kuncir kuda sedang terduduk di sebuah kursi kayu. Kedua tangannya memutar - mutar benda persegi berwarna putih sedang dagunya menempel pada permukaan meja kayu bundar di depannya. 

            Layar hapenya menyala, memunculkan sebuah box putih bertuliskan Deren dan sebuah pesan singkat yang masih enggan di bukanya. Deren, entah bagaimana lelaki berparas batak dengan sedikit darah perancis itu dapat mengambil alih sebagian kesadarannya.  Dua kali purnama ia menghabiskan waktunya bersama Deren, selama itu pulalah sinkronisasi itu terjadi, seakan ujung – ujung kabel mereka selalu berada di tempat yang tepat, beberapa menyambung sementara sebagian yang lain menjauh dengan sendirinya seakan mengantisipasi terjadinya konslet. Belum pernah ia bertemu dengan makhluk seperti ini.

            Kesinambungan itu yang membuat Deren belum mendapatkan tempat yang cocok di kehidupan perempuan itu. Deren bukan hanya sekedar teman, dia lebih dari sekedar definisi teman yang sesungguhnya. Cinta ? tidak, bukan seperti ini perasaan cinta. Jika bisa diukur dengan 0 sebagai teman dan 10 sebagai cinta, mungkin Deren berada pada semua posisi itu dalam satu waktu tapi tak jarang juga ia berfluktuasi.

            Halaman rumah berornamen jawa itu begitu luas, sehingga dari depan, teras itu seperti berada di tengah – tengah hutan tropis. Perempuan itu mengangkat dagunya yang sedari tadi menempel pada meja untuk sekedar mengecek jam coklat tua berbentuk burung hantu dengan satu sayap yang lebih terlihat seperti sayap ayam, melekat pada dinding berpelitur coklat tua. Warnanya yang senada membuat jam itu seakan bersatu dengan dinding. 12.00 pantas cahaya matahari begitu ganas. 

            “Kak , kenapa bunga Rosa berubah warna jadi coklat ?”

            Seorang anak kecil dengan wajah cemberut datang menghampiri perempuan itu sambil membawa bunga kaktus dalam sebuah pot yang mulai tampak layu. Kaos putihnya tak lagi menjadi putih bersih terkena noda – noda tanah, terlihat sekali betapa keras usahanya merawat tanaman itu. Rok merahnya terlihat basah oleh tumpahan air dari kendi penyiram di tangan kanannya.

            “Liat kak, durinya jadi gak tajem, warnanya coklat, bunganya malah mau mati padahal Rosa gak pernah lupa buat nyiramin kaktus ini kak.” Anak kecil itu tetap berdiri, diam sejenak dan melihat ke arah perempuan itu, menanti jawaban atas keheranannya.

            “Rosa, kamu naruh kaktusnya di mana ?”. Perempuan itu bertanya sambil menatap lembut mata adik kecil itu, mengalihkan perhatiannya yang sempat bercokol pada layar hape yang mulai berbunyi sekali lagi.

            “Itu di sana, Rosa taruh di bawah atap biar dia gak kepanasan, Rosa juga udah rajin nyiram, ngasih dia minum biar gak kehausan kak, tapi lihat deh..” Anak kecil itu berkata sambil menunjuk sebuah tempat teduh di bawah atap rumahnya sebelum tertunduk sedih melihat bunga kaktus di tangannya yang tak sesuai dengan harapan.

Perempuan itu tersenyum.

            “Rosa, bunga kaktus itu tempatnya bukan di tempat yang dingin dan lembab seperti di bawah atap itu tapi di tempat yang panas terkena matahari. Tuh di sebelah bunga teratainya Rosa itu.” Perempuan itu berkata sambil menunjuk satu pot bungai teratai di teras terbuka yang terpanggang sinar matahari.

            “Tapi kak, teratainya Rosa di situ juga mau mati gitu. Rosa gak mau nanem lagi ah, bunga Rosa gak ada yang mekar.” 

            “Sayang, sini deh...” perempuan itu memegang kedua bahu Rosa dan menatap kedua bola mata bundar yang mulai berkaca – kaca. “... dengerin kakak. Bukan salah bunganya atau salah Rosa yang gak bisa nanem. yang perlu Rosa tahu cuma tempatnya. Bunga itu akan mekar kalau Rosa rawat sesuai tempatnya.”

            “Oh gitu ya kak, bener ya? yee bunga Rosa bakalan mekar. Kaktus Rosa mekar, teratai Rosa mekar. Yee!!”

            Anak kecil itu begitu girang, dengan harapan penuh segera menukar tempat bunga kaktus dengan teratai yang terkena panggangan sinar matahari, sedang perempuan itu terdiam, tersentak atas apa yang baru saja di dapatnya dari pertanyaan seorang anak kecil.

           Tempat, ya, itu yang selama ini ia cari. Pertanyaan itu yang selama ini bersembunyi dalam palung laut hatinya, tak menyangka akan muncul begitu saja ke permukaan oleh pancingan seorang anak kecil. Place is the only problem for her now. Seandainya saja dia tahu di mana harus memposisikan seseorang yang sedang bergeming di pikirannya saat ini. Segalanya pasti akan baik –baik saja. Seperti kaktus dan teratai yang akan mekar pada tempatnya.

            Tapi tempat yang seperti apa ? Sayangnya, tidak ada ilmu biologi untuk sekedar memahami sebuah adaptasi perasaan. Sebuah teori yang bisa diaplikasikan dalam penempatan sebuah perasaan.

            Uhuu Uhuu Uhuu
 
            Jam burung hantu mulai beruhu uhu nyaring. Sudah satu jam perempuan itu berbicara dengan intuisinya, meniti setiap sel – sel cortex yang terkenal sebagai pabrik pembuatan logika manusia. Perempuan itu menoleh ke sumber suara, memandangi ukiran bentuk burung hantu yang sangat tidak proporsional. Hadiah ulang tahun papa kepada mama tercintanya. Sungguh, hasil pemahatan jam itu tidak bisa mempresentasikan keseluruhan cinta yang mampu menghadirkan dia dan adiknya ke dunia ini.

            Sel – sel cortex perempuan itu mulai bekerja, memberitahu bahwa perasaan itu abstrak, bahkan seorang seniman terkadang hanya bisa mengungkapkannya lewat gambar maupun intonasi not not balok yang hanya mempresentasikan sebagian kecil dari seluruh kerumitan perasaan. Mempresentasikannya dalam sebuah gambar yang hanya bisa menyuguhkan bidang dua dimensi dari keseluruhan seratus dimensi perasaan.

            Perempuan itu bangkit berdiri. Sepertinya lambung beserta ususnya mulai menggeliat meminta jatah energi yang habis terpakai untuk memahami intuisinya, keabstrakan yang indah sekaligus menjengkelkan.

            Belum, belum ada solusi, saat ini semuanya masih berhenti pada sebuah rumusan masalah. Tugasnya kali ini masih berlanjut untuk menemukan atau mungkin membuat tempat yang sesuai untuk perasaannya saat ini.

                                                                                                                  Luss~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar