Kemarin sore, tepat kemarin sore
saat senja berada di sisa – sisa penghabisan. Ada siluet seseorang yang samar
semakin mendekat, menghadirkan bentuk wajah yang tak asing. Aku mulai
menyebutnya panglima perang. Ia suka membuat arena perang di mana hanya ada aku
dan dia di dalamnya.
Kemarin sore, tepat ketika aku
menghabiskan penghujung senja. Seorang panglima perang untuk kesekian kalinya
kembali. Pada musim yang sama, membuat arena yang tidak jauh berbeda. Kembali
tanpa ijin membangun arena pertempuran di teritorialku.
Peraturannya hanya satu dalam arena
berbentuk lingkaran ini, siapa yang lebih dulu menyeberang dia yang menang. Hanya
tinggal berkonspirasi dengan waktu dan dewi fortuna untuk memperlambat detiknya
dan mengilhamkan sedikit keberuntungannya untukku. Memasang intuisi dan logika
dengan proporsi tepat dalam momen yang sempurna agar sedikitpun tak menyentuh
ranjau.
Ada panglima perang yang pernah
membuatku segan menunduk sungkan, mengundangku kembali ke arena pertempuran.
Menggunakan strategi usang yang sudah lama aku hafal. Aku di seberang sini tahu benar titik – titik
ranjaunya. Ia di seberang sana paham benar titik – titik granatku. Kita
mengerti.
Aku tidak perlu lagi berjingkat was
was untuk berjalan ke seberang. Hanya tinggal melenggak – lenggok bak puteri
dengan sepatu kaca.
Panglima perang tiba lebih dulu di
titik tengah diameter area pertempuran. Tidak kurang tidak lebih. Ia tetap
bergeming membiarkan aku yang mulai berlari dengan sangat anggun mencoba
membius waktu.
Bersua di titik tengah area
pertempuran. Menjejak tanah yang sama, garis yang sama. Bersih, sehat, tidak
ada coreng moreng bekas samaran perang. Kita
bertemu dalam utuh. Tak ada tangan atau kaki yang hancur oleh ranjau meski
tanpa baju besi dan sepatu boot. Tak ada hati yang hancur separuh karena granat
meski tanpa perlindungan tameng panglima perang.
Kita berhenti di titik tengah tanpa
ingin melanjutkan satu sama lain. Tanpa ada ambisi untuk berlari ke seberang
karena sejatinya kitalah pemenang sekaligus pecundang. Permainan logika dan perasaan. (luss)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar