Rabu, 22 Juli 2015

Panglima Perang



Kemarin sore, tepat kemarin sore saat senja berada di sisa – sisa penghabisan. Ada siluet seseorang yang samar semakin mendekat, menghadirkan bentuk wajah yang tak asing. Aku mulai menyebutnya panglima perang. Ia suka membuat arena perang di mana hanya ada aku dan dia di dalamnya.

Kemarin sore, tepat ketika aku menghabiskan penghujung senja. Seorang panglima perang untuk kesekian kalinya kembali. Pada musim yang sama, membuat arena yang tidak jauh berbeda. Kembali tanpa ijin membangun arena pertempuran di teritorialku. 

Peraturannya hanya satu dalam arena berbentuk lingkaran ini, siapa yang lebih dulu menyeberang dia yang menang. Hanya tinggal berkonspirasi dengan waktu dan dewi fortuna untuk memperlambat detiknya dan mengilhamkan sedikit keberuntungannya untukku. Memasang intuisi dan logika dengan proporsi tepat dalam momen yang sempurna agar sedikitpun tak menyentuh ranjau. 

Ada panglima perang yang pernah membuatku segan menunduk sungkan, mengundangku kembali ke arena pertempuran. Menggunakan strategi usang yang sudah lama aku hafal.  Aku di seberang sini tahu benar titik – titik ranjaunya. Ia di seberang sana paham benar titik – titik granatku. Kita mengerti.
Aku tidak perlu lagi berjingkat was was untuk berjalan ke seberang. Hanya tinggal melenggak – lenggok bak puteri dengan sepatu kaca. 

Panglima perang tiba lebih dulu di titik tengah diameter area pertempuran. Tidak kurang tidak lebih. Ia tetap bergeming membiarkan aku yang mulai berlari dengan sangat anggun mencoba membius waktu.
Bersua di titik tengah area pertempuran. Menjejak tanah yang sama, garis yang sama. Bersih, sehat, tidak ada coreng moreng bekas samaran perang. Kita bertemu dalam utuh. Tak ada tangan atau kaki yang hancur oleh ranjau meski tanpa baju besi dan sepatu boot. Tak ada hati yang hancur separuh karena granat meski tanpa perlindungan tameng panglima perang.

Kita berhenti di titik tengah tanpa ingin melanjutkan satu sama lain. Tanpa ada ambisi untuk berlari ke seberang karena sejatinya kitalah pemenang sekaligus pecundang. Permainan logika dan perasaan. (luss)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar