Hai.
Aku
pernah berkata bahwa kehidupan ini layaknya siklus air. Tidak boleh diam. Harus
begerak, terjatuh, mengalir meninggalkan puncak tertinggi dengan segala
atmosfer kesejukannya, mencari celah menuju satu tujuan. Lautan. Lalu
bersedia terpanggang untuk pada akhirnya kembali menjadi awan, kembali
terjatuh, mengalir di tempat dan kodisi yang berbeda. Entah sama sekali berbeda
atau hanya sepersatu, seperdua, tiga, empat. Yang jelas siklus itu abadi tapi
satu butiran air tidak akan pernah menyentuh segumpal tanah yang sama.
Dan
baru saja aku menyelesaikan satu dari milyaran yang ada. Batuan terjal telah
aku kikis habis. Mengalir di sungai beratapkan ribuan bintang. Menghayati
biasan sinar mentari di telaga pagi hari. Setiap momen telah aku resapi.
Baru
saja aku menyelesaikan siklus yang telah menciptakan satu buah warna - warni
gelembung sabun. Begitu indah. Terlihat jelas, nyata tapi terlalu rapuh saat
disentuh. Tidak ada kata perpisahan atau perayaan seperti tidak ada yang
berakhir dan tidak ada pencapaian yang harus dirayakan.
Satu
siklus baru telah resmi dimulai. Aku merasakan itu. Aku pergi untuk terjatuh
lagi. Mengalir lagi. Inginnya aku permisi. Berbasa - basi untuk sekedar menahan
waktu agar jangan cepat - cepat berlalu menuju siklus yang baru. Nyatanya kini
aku berlari menyejajari waktu sambil diam - diam mengucap salam perpisahan
dalam hati. Sendiri.
Mendadak
semua jalan terlihat sama saja. Semua sungai, parit, dan gorong - gorong
menjadi biasa saja. Tidak ada bintang malam, biasan mentari pagi. Mendadak aku
sadar bahwa satu hal yang membuat semua menjadi luar biasa tidak lagi ada.
Mendadak aku tahu mengapa aku begitu ingin menahan waktu. Meski harus, aku
hanya tidak ingin berpisah dengan itu. Meski ingin, aku tidak akan pernah bisa
menyentuh gelembung sabun itu.
Itu
hanya gelembung sabun bukan kristal yang bisa disentuh dan disimpan
-Luss
Tidak ada komentar:
Posting Komentar