Jumat, 29 Mei 2015

TUMPUL



               

             Inderanya sudah tumpul. Sejak sunset di pantai Kuta dua hari lalu, ia sudah tidak mau mengaktifkan apa – apa. Jika ada yang berusaha mengaktifkan pasti tidak akan pernah sama lagi.
            Lelaki itu terduduk di hamparan pasir putih sambil menekuk lututnya. Ia mulai menggoreskan kuasnya pada lembaran – lembaran kanvas kosong, mengekspresikan rasa dalam goresan – goresan yang jauh dari kata simetris. Namun, ada yang berbeda. Kali ini tidak ada yang tercipta, kalaupun ada itu hanyalah goresan – goresan cat tanpa makna. Goresan – goresan tak berguna yang tak sanggup memuaskan batinnya seperti biasa.
            Entah harus dengan cara apa lelaki itu mengembalikan kepekaan inderanya, mengaktifkan kembali intuisinya. Untuk saat ini lelaki itu sudah terlalu tumpul, bisikan angin yang dulu sesekali menyiulkan lagu – lagu rindu yang kemudian akan menjelma dalam goresan – goresan di kanvas tak lagi sanggup ia dengar. Bahkan jika kali ini angin mengirimkan laskarnya dalam apa yang disebut – sebut s ebagai topan dan badai. Ia tidak akan bisa merasa.
            Lelaki itu berdiri, enggan membawa kanvas kosong dan beberapa peralatan catnya. Butiran – butiran pasir yang menempel pada celana oblongnya beberapa terjatuh seiring ia berlari menuju batas pantai. Ia menghadap matahari yang masih asyik memanggang semesta. Berada di ketinggian jauh di atas batas cakrawala, mungkinkah matahari belum merindukan laut atau mungkin rasa rindu itu malah telah luntur  hingga tak lagi ada rasa ketika perjumpaan sejatinya hanyalah rutinitas yang telah dijanjikan semesta. Tentang matahari dan laut yang bersua di batas cakrawala dan menyuguhkan senja.
            Lelaki itu berjalan di batas terluar ombak. Sinar matahari hanya sanggup menerpa sebagian kiri wajahnya dan rambut hitam ikal sebahu yang sesekali menjuntai ke dahinya. Kakinya terus melangkah menjejak pasir dengan susah payah. Ia merasa penat dan mungkin itu satu – satunya rasa yang masih bisa dirasakan oleh inderanya. Ia pun berbalik menjauh dari laut dan berjalan membelakangi matahari. Tak peduli jika matahari ingin sekedar bersua dengan wajahnya bukan siluetnya yang meninggi setia mengiringi jejak langkahnya.
            Lelaki itu tak lagi menjejak pasir pantai, bahkan gemuruh ombaknya tak lagi terdengar. Kali ini ia berdiri di depan Gapura Candi Bentar, rumah adat bali dengan gapura di pintu masuknya, berlatar luas dengan sebuah pohon kamboja besar menaungi meja dan kursi marmer. 
            Lelaki itu ingin segera berisitirahat di kamar dan tertidur. Ia sekaligus ingin me-nonaktifkan semua sistem syarafnya yang memang telah tumpul ketika matanya tertuju pada 1banding wheel milik pamannya yang masih basah oleh air dan sisa – sisa coklat lempung. Di baskom sebelahnya, segumpal lempung tergeletak begitu saja. Warna coklatnya yang merata menandakan bahwa lempung tersebut telah melewati proses 2kneading dan 3wedging siap untuk dicetak. Lelaki itu menguncir rambut gondrongnya yang beberapa masih terjuntai, mengedarkan matanya ke sekitar untuk mencari pemilik alat yang saat ini begitu ingin ia sentuh. Tapi nihil, hanya bunga putih kamboja yang sesekali gugur tertiup angin. Angin yang kali ini meniupkan hawa panas sedang awan gelap mulai menyelimuti langit siang itu, mengisyaratkan kedatangan hujan pada pertengahan bulan Mei.
            Lempung itu telah berpindah tempat ke atas banding wheel. Tangan lelaki itu mulai memijit – mijit bagian tengah lempung. Gelang tali yang membentuk braid di tangan kanannya mulai belepotan oleh tanah basah. Kaos putihnya tak lagi berupa putih polos melainkan berubah seperti kaos dengan ornamen goresan cat coklat tak beraturan. Rambutnya beberapa menjuntai keluar dari kuncirnya dan gerah membuat peluhnya mengalir di pelipis dan berhenti di cambang tipisnya. Lelaki itu bukanlah seorang pengrajin gerabah. Ia adalah seniman lukis yang bebas tak terikat oleh bentuk dan wujud tiga dimensi. Namun, Ia tidak mengerti mengapa momen ini begitu berarti untuknya. Entah mengapa ia mau mengais – ngais sisa kekuatan indera terakhir untuk membuat karya ini. Sejenak mengaktifkan kembali intuisinya dan berkata bahwa batinnya akan menemui titik kepuasannya, seakan ia tahu bagaimana memperlakukan intuisinya yang koma.
            Tanpa bersuara lelaki itu terus memijat dan memilin hingga gundukan tanah lempung berubah menjadi cangkir mungil di atas banding wheel. Ada rasa puas yang tak terbendung di sana tapi tak sedikitpun bibirnya  tertarik untuk sekedar menyunggingkan senyum atau matanya yang menyipit untuk melengkapi tawa. Intuisinya kembali akut, inderanya mati tak sanggup lagi merasa. Lelaki itu bangkit dan mengangin- anginkan cangkirnya pada meja beton di bawah pohon kamboja kemudian duduk di teras. Memandanginya dalam diam dari jarak 6 meter semakin membuat cangkir itu terlihat kecil di antara pohon kamboja, meja marmer dan benda lainnya.
            Awan mendung mulai menepati janjinya untuk menghadirkan butiran hujan yang mulai turun satu – satu, dua – dua, tiga – tiga, empat – empat, lima – lima, tak terhingga. Lelaki itu bergeming memandangi cangkirnya yang perlahan mulai terisi butiran – butiran air hujan. Ada perasaan hangat saat cangkir itu penuh oleh bening hujan dan hangat itu mendadak hilang tanpa berubah menjadi panas ataupun mereda menjadi dingin melihat air hujan yang mulai meluap dari cangkirnya. Guyuran hujan yang semakin deras menggerus cangkir yang belum sepenuhnya kering. Cangkirnya amblas terbilas sedang hujan hanya bertugas untuk terjatuh lantas menguap begitu saja.
            Lelaki itu tetap bergeming sampai hujan kembali turun lima – lima, empat – empat, tiga –tiga, dua – dua, satu – satu, tak bersisa. Ia kini tersenyum menyadari kepicikannya yang membuatnya terfokus pada sebuah wadah mungil. Terlalu gegabah untuk menadahi hujan pada wadah yang masih setengah basah. Bahkan terlalu bodoh untuk sekedar ingin menyimpan seluruh hujan dalam cangkir mungilnya dan terlalu egois untuk tidak membaginya dengan semesta.
            Lelaki itu bangkit masuk ke dalam kamar membiarkan sisa – sisa lempung di meja marmer yang pernah sejenak menjadi cangkir. Ia tahu bahwa ia hanya salah wadah. Toh nanti dia bisa berganti wadah. Meski untuk menampung seluruh butiran hujan di semesta ini tidaklah mudah.  Kini lelaki itu benar – benar ingin tertidur, benar – benar ingin me-nonaktifkan intuisi dan inderanya. Menutup telinga dari bisikan rindu angin, menutup mata dari biasan cahaya. Menutup intuisinya dari satu buah nama yang terus menggema di sudut – sudut ruang hatinya. Menggambarkan siluet perempuan yang sanggup menjelma menjadi matahari untuk haus gelombang lautnya yang selalu menanti senja di batas tepi cakrawala. Kemudian menganggap pertemuan itu magis dan sakral sedang matahari tak punya rasa karna singgah di perbatasan cakrawala adalah rutinitas yang dihadirkan semesta. Dialah perempuan yang sanggup menjelma menjadi hujan dalam kemarau panjangnya. Terlalu naif untuk sekedar ingin menyimpannya dalam sebuah cangkir mungil.
            Lelaki itu terlelap jauh dalam alam bawah sadarnya dan melukis segala rasa yang ada sebelum akhirnya ia binasakan begitu saja. Menumpulkan segala bentuk intuisinya untuk berada pada senja esok harinya.
                                                                        ------- ii --------
            Lelaki itu membawa juntaian rambutnya ke belakang dengan jemari tangannya. Membiarkan sisanya di acak – acak oleh angin laut. Ia kembali terduduk di pasir, memandangi kanvas yang tak lagi kosong. Ada goresan warna orange, biru, dan coklat tanpa wujud yang realis tapi setidaknya batinnya puas.
            Langkah kecil perempuan berhenti tepat di sebelahnya dan menarik sang pemilik untuk terduduk mengikuti gaya gravitasi. Perempuan itu menyapa seperti biasa, memotret orange yang sama setiap harinya dengan kamera yang tak pernah lepas menggantung di lehernya. Topi bundar perempuan itu tiba – tiba terbang oleh angin yang sepertinya terlalu bersemangat menyapa. Perempuan itu tertawa sambil terburu – buru memotret lukisan lelaki di sebelahnya kemudian menyentuh kertas yang terselip pada bingkai kanvas. Segera ia membaca sajak yang pertama kali menemani lukisan lelaki yang masih diam menikmati orange yang disuguhkan senja kala itu.
           
Akulah lautan yang menunggu dan mengagungkan kedatangan senja. Satu waktu di mana laut dan matahari sama – sama berada pada batas cakrawala. Sementara kamu adalah matahari yang selalu bersinar tanpa rasa apa – apa karena bagimu senja hanyalah pertemuan, sebuah rutinitas yang dijanjikan oleh semesta. Menginginkanmu sama saja dengan membunuh pagi dan menyekap malam sisanya hanya menyuguhkan senja pada semesta selamanya
 
            Perempuan itu tertawa, bukan kepada sajaknya. Ia menertawakan lelaki yang telah membuat sajak itu. Seperti melihat singa yang berusaha keras menjadi seekor kucing anggora. Setahun sudah perempuan itu menjadi kolektor lukisan abstraknya baru kali ini barisan sajak muncul dari keabstrakan partner kerjanya. Perempuan itu semakin tertawa, lepas tanpa beban apa – apa. Tanpa rasa. (Luss)


1banding wheel : meja putar dalam proses pembuatan keramik dari tanah liat
2kneading : proses pengulian, menekan – nekan tanah liat agar tingkat keplastisan dan homogenitas merata serta bebas dari gelembung udara.
3wedging: proses pengirisan tanah yang bertujuan untuk mencampur satu macam tanah atau lebih yg berbeda warna, jenis, dan plastisitasnya.

2 komentar: