Perempuan itu mulai mengeluarkan secarik
kertas dan sebuah bolpoin tinta. Tidak biasanya ia mengunjungi kedai kopi ini
di saat jam makan siang. Biasanya dia akan
berada di sini saat hari akan menginjak petang, duduk di sudut ruangan dan tak
berapa lama lagi akan ada seorang laki – laki mengenakan jas kantoran yang
mendekatinya. Mereka akan duduk berdua, memesan cappucino dan mengobrol
menikmati senja yang terpampang jelas pada kaca depan kedai ini.
Tapi kali ini, senja belum datang
dan perempuan itu sudah terduduk di tempat biasanya dengan pesanan yang berbeda
yaitu secangkir caffe latte. Detik – detik jam ia habiskan tanpa bersuara dan
seteguk demi seteguk caffe latte menemaninya menuliskan goresan – goresan tinta
pada kertas yang kini mulai terisi penuh.
Hari masih sangat cerah, tidak ada
senja yang mengggelayut indah di angkasa tapi wajah perempuan itu seakan
memancarkan aura senja yang akan berpaling menuju petang. Tunggu dulu, ada yang
berbeda, tidak seperti biasanya dia tidak mengenakan tas jinjing merah keemasannya
melainkan tas ransel semacam backpacker,
tidak ada blezer dan celana kain tapi kaos oblong dan celana jeans
belel butut, begitu juga rambut ikal yang biasanya tergerai bak bintang iklan
shampoo kini tertarik rapi ke belakang seperti tokoh Anna di telenovela Mexico,
Amigos X Siempre. Sepertinya, dia akan kembali memulai perjalanannya. Iya,
sepertinya begitu. Dia berucap pada lelaki itu di perkenalan awal mereka tujuh
bulan lalu bahwa dia adalah seorang backpacker.
Hari menjelang sore, sudah dilipat
kertas yang seharian tadi ditulisinya menjadi empat bagian kemudian ia melambai
ke arah waitress bertubuh gemuk, memberinya beberapa koin beserta kertas tanpa amplop
dan segera ia menyandang tas ranselya meninggalkan kedai kopi itu.
Tak lama setelah langit benar –
benar menyajikan semburat orange kemerah – merahan, lelaki dengan jas kantoran itu
muncul. Dia sedikit terperangah melihat meja kayu di dekat kaca itu kosong. Lelaki
itu tetap berjalan ke arah meja itu lalu duduk sembari sesekali menengok pintu
masuk kedai kopi. Mungkin dia mengira perempuan itu datang terlambat walaupun
ini akan menjadi yang pertama kalinya selama 210 kali pertemuannya, walaupun
batinnya berkata ada yang tengah menjauh saat ini, ada sekat yang terbuka usai
pertemuan terakhirnya dengan perempuan itu, usai pengakuannya tentang cincin
emas yang melingkar indah di jari manisnya lambang sebuah janji mengikat yang
jauh lebih dulu terucap.
Lelaki itu belum melambaikan tangan
untuk memesan cappucino langganannya, seorang waitress bertubuh gemuk
mendekatinya sambil membawakan secangkir caffe latte dan sebuah kertas dilipat segi empat tak
beramplop. Heran, lelaki itu mulai mengamati lipatan kertas itu dan meneguk
pelan – pelan caffe latte yang telah dipesankan untuknya entah oleh siapa. Dibukanya perlahan kertas putih dengan goresan
tinta hitam itu. Tulisan – tulisan latin yang sedikit miring. Lelaki itu sama
sekali tidak mengenalinya, tapi setelah ia membaca, dari kata –katanya, dari bahasanya
ia langsung tahu siapa pengirim sajak – sajak itu.
~~~~~~~~~~ OO
~~~~~~~~~~
Selamat menikmati
senja,
Wahai kamu yang entah
harus dengan apa aku menyebutnya,
Aku telah berkelana
menuju setiap sudut kota bahkan desa
hanya untuk melihat
semesta
Aku tumbuh dengan
cara berkelana,
mencari – cari
pembeda antara fana dan nyata,
mencari batas antara
indah dan resah,
menarik garis
cakrawala pada pertengahan senja dan petang,
menentukan waktu saat
fajar menginjak siang.
Aku berkelana ...
dengan sibuk mencacah
waktu menjadi windu,
windu menjadi tahun,
tahun menjadi bulan,
dan bulan menjadi
hari.
Aku berkelana dan
sama di mana – mana
hingga aku berhenti
pada pintu masuk sebuah labirin bertuan
sebut saja dia
labirin sel- sel cortex
dan di sinilah aku
berada
sedang terjebak dan
menulis sajak.
Aku lelah tapi bahkan
belum menyerah
Karna di sini aku
bergerak tanpa perlu berjalan bahkan merangkak
aku bergerak bebas
tanpa takut kebas
tak perlu aku
berbicara untuk mengungkap makna
saat mata tidak hanya
sebatas indera dan semesta seakan berbicara
di labirin ini,
segala sesuatunya
terasa indah
segala sesuatunya
jelas tanpa perlu penjelas
tanpa perlu pembeda,
tanpa perlu pencacah
segala sesuatunya
melebur tapi tidak hancur
Seperti huruf yang
melebur menjadi kata, kata menjadi kalimat
bukan kalimat menjadi
kata dan kata menjadi morphem hingga huruf – huruf phonem tak bermakna
Karna hanya di
labirin ini,
aku merasa utuh
meskipun ada yang belum bisa aku sentuh
atau barangkali
semesta hanya mempertemukan
tanpa memberiku ruang
untuku terjatuh
hingga utuh menjadi
runtuh
Ada di mana aku lelah
tapi bahkan belum berucap menyerah
dan jika kali ini aku
bersandar pada pintu keluar
akankah semesta
mengijinkan ?
Karna aku akan mulai
berjalan untuk berpindah haluan
berkata – kata untuk
mengungkap makna
Karna saat aku tak
lagi merasa, semesta tak akan lagi berbicara
dan kembali akan ada
pembeda antara nyata dan fana
Wahai engkau entah harus dengan apa aku
menyebutnya, katamu racikan sandiwara kehidupan di semesta ini seperti
cappucino, milk foam, steamed milk dan espresso melebur jadi satu dalam takaran
yang seimbang. Tapi, sejenak izinkan aku menikmati caffe latte ku, 2/3 latte
dan hanya ada 1/3 ruang untuk espresso, biarkan kali ini aku mengecap manis
untuk sejenak tak menggubris pahit.
~~~~~~~~~~ OO
~~~~~~~~~~
Di lipatnya kembali menjadi segi empat
kertas itu. Lelaki itu diam, membiarkan
senja berubah begitu saja menjadi petang dengan secangkir caffe latte di
hadapannya.
~Luss~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar