Kamis, 26 Februari 2015

LABIRIN BERTUAN



                Perempuan itu mulai mengeluarkan secarik kertas dan sebuah bolpoin tinta. Tidak biasanya ia mengunjungi kedai kopi ini di saat jam makan siang. Biasanya dia akan berada di sini saat hari akan menginjak petang, duduk di sudut ruangan dan tak berapa lama lagi akan ada seorang laki – laki mengenakan jas kantoran yang mendekatinya. Mereka akan duduk berdua, memesan cappucino dan mengobrol menikmati senja yang terpampang jelas pada kaca depan kedai ini.
            Tapi kali ini, senja belum datang dan perempuan itu sudah terduduk di tempat biasanya dengan pesanan yang berbeda yaitu secangkir caffe latte. Detik – detik jam ia habiskan tanpa bersuara dan seteguk demi seteguk caffe latte menemaninya menuliskan goresan – goresan tinta pada kertas yang kini mulai terisi penuh.
            Hari masih sangat cerah, tidak ada senja yang mengggelayut indah di angkasa tapi wajah perempuan itu seakan memancarkan aura senja yang akan berpaling menuju petang. Tunggu dulu, ada yang berbeda, tidak seperti biasanya dia tidak mengenakan tas jinjing merah keemasannya melainkan tas ransel semacam backpacker,  tidak ada blezer dan celana kain tapi kaos oblong dan celana jeans belel butut, begitu juga rambut ikal yang biasanya tergerai bak bintang iklan shampoo kini tertarik rapi ke belakang seperti tokoh Anna di telenovela Mexico, Amigos X Siempre. Sepertinya, dia akan kembali memulai perjalanannya. Iya, sepertinya begitu. Dia berucap pada lelaki itu di perkenalan awal mereka tujuh bulan lalu bahwa dia adalah seorang backpacker.
            Hari menjelang sore, sudah dilipat kertas yang seharian tadi ditulisinya menjadi empat bagian kemudian ia melambai ke arah waitress bertubuh gemuk, memberinya beberapa koin beserta kertas tanpa amplop dan segera ia menyandang tas ranselya meninggalkan kedai kopi itu.
            Tak lama setelah langit benar – benar menyajikan semburat orange kemerah – merahan, lelaki dengan jas kantoran itu muncul. Dia sedikit terperangah melihat meja kayu di dekat kaca itu kosong. Lelaki itu tetap berjalan ke arah meja itu lalu duduk sembari sesekali menengok pintu masuk kedai kopi. Mungkin dia mengira perempuan itu datang terlambat walaupun ini akan menjadi yang pertama kalinya selama 210 kali pertemuannya, walaupun batinnya berkata ada yang tengah menjauh saat ini, ada sekat yang terbuka usai pertemuan terakhirnya dengan perempuan itu, usai pengakuannya tentang cincin emas yang melingkar indah di jari manisnya lambang sebuah janji mengikat yang jauh lebih dulu terucap.
            Lelaki itu belum melambaikan tangan untuk memesan cappucino langganannya, seorang waitress bertubuh gemuk mendekatinya sambil membawakan secangkir caffe latte dan  sebuah kertas dilipat segi empat tak beramplop. Heran, lelaki itu mulai mengamati lipatan kertas itu dan meneguk pelan – pelan caffe latte yang telah dipesankan untuknya entah oleh siapa.  Dibukanya perlahan kertas putih dengan goresan tinta hitam itu. Tulisan – tulisan latin yang sedikit miring. Lelaki itu sama sekali tidak mengenalinya, tapi setelah ia membaca, dari kata –katanya, dari bahasanya ia langsung tahu siapa pengirim sajak – sajak itu. 


~~~~~~~~~~ OO ~~~~~~~~~~
Selamat menikmati senja,
Wahai kamu yang entah harus dengan apa aku menyebutnya,
Aku telah berkelana menuju setiap sudut kota bahkan desa
hanya untuk melihat semesta
Aku tumbuh dengan cara berkelana,
mencari – cari pembeda antara fana dan nyata,
mencari batas antara indah dan resah,
menarik garis cakrawala pada pertengahan senja dan petang,
menentukan waktu saat fajar menginjak siang.
Aku berkelana ...
dengan sibuk mencacah waktu menjadi windu,
windu menjadi tahun,
tahun menjadi bulan,
dan bulan menjadi hari.
Aku berkelana dan sama di mana – mana
hingga aku berhenti pada pintu masuk sebuah labirin bertuan
sebut saja dia labirin sel- sel cortex
dan di sinilah aku berada
sedang terjebak dan menulis sajak.
Aku lelah tapi bahkan belum  menyerah
Karna di sini aku bergerak tanpa perlu berjalan bahkan merangkak
aku bergerak bebas tanpa takut kebas
tak perlu aku berbicara untuk mengungkap makna
saat mata tidak hanya sebatas indera dan semesta seakan berbicara
di labirin ini,
segala sesuatunya terasa indah
segala sesuatunya jelas tanpa perlu penjelas
tanpa perlu pembeda, tanpa perlu pencacah
segala sesuatunya melebur tapi tidak hancur
Seperti huruf yang melebur menjadi kata, kata menjadi kalimat
bukan kalimat menjadi kata dan kata menjadi morphem hingga huruf – huruf phonem tak bermakna
Karna hanya di labirin ini,
aku merasa utuh meskipun ada yang belum bisa aku sentuh
atau barangkali semesta hanya mempertemukan
tanpa memberiku ruang untuku terjatuh
hingga utuh menjadi runtuh
Ada di mana aku lelah tapi bahkan belum berucap menyerah
dan jika kali ini aku bersandar pada pintu keluar
akankah semesta mengijinkan ?
Karna aku akan mulai berjalan untuk berpindah haluan
berkata – kata untuk mengungkap makna
Karna saat aku tak lagi merasa, semesta tak akan lagi berbicara
dan kembali akan ada pembeda antara nyata dan fana

Wahai engkau entah harus dengan apa aku menyebutnya, katamu racikan sandiwara kehidupan di semesta ini seperti cappucino, milk foam, steamed milk dan espresso melebur jadi satu dalam takaran yang seimbang. Tapi, sejenak izinkan aku menikmati caffe latte ku, 2/3 latte dan hanya ada 1/3 ruang untuk espresso, biarkan kali ini aku mengecap manis untuk sejenak tak menggubris pahit.
~~~~~~~~~~ OO ~~~~~~~~~~
              Di lipatnya kembali menjadi segi empat kertas itu. Lelaki itu diam, membiarkan  senja berubah begitu saja menjadi petang dengan secangkir caffe latte di hadapannya.




                                                                                                                                           ~Luss~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar