Sabtu, 31 Januari 2015

Kuantum Senja (Twilight Quantum)





              di depan gubuk pinggiran sawah ini aku menunggu dia, cucu dari pemilik bentangan sawah ini. Lelaki itu berjalan ke arahku, rambutnya gondrong dipadu jaket jeans dan tas ransel yang ditenteng separoh, kesannya rebel. Dia melangkah cepat – cepat meniti setapak kecil di tengah –  tengah pematang sawah. Sebut saja dia Train, sahabatku. 
            In front of the cottage, I’m waiting for him. A grandson of the farm owner. There,  looks like rebellious, messy long-haired, wearing jeans jacket and carries a backpack in one side. He is walking toward me. He hurries along the path in the middle of the farm. Let’s call him Train. My bestfriend.

            “An! lihat nih! Masterpiece bro.” Seperti biasa Train memperlihatkan sebingkai kanvas dengan goresan cat berbeda setiap harinya. Kali ini campuran warna merah, abu – abu, kuning  dan biru dicampur jadi satu menjadi bentuk yang mustahil  dideskripsikan.
           “An! Look at this! Masterpiece dude.” As usual Train shows me a frame of different scratch canvas every day. This time, red, grey, yellow, and blue are blended. They form an indescribable object.

            “Aku masih tidak mengerti di mana sisi magis lukisan abstrakmu itu.”
             ya aku memang tidak mengerti.
            “I still don’t get it, which part that shows its magical.”
           yes, i truly don’t understand.

           “Ini adalah senja. Lihat kombinasi biru dan merah itu menggambarkan matahari yang terbenam di lautan”.
            “This is a twilight. Look the combination of blue and red. It depicts a sunset.”

          Aku hanya tertawa, ratusan kali aku disuguhi macam – macam hasil karya yang ia sebut – sebut Masterpiece, ratusan kali itu jugalah aku mencoba mendeskripsikannya tapi hasilnya aku seperti hanya mencari latar belakang tanpa bisa menemukan tema maupun kalimat penjelas dan tidak akan pernah mencapai kesimpulan. Sejujurnya ini lebih melelahkan dibanding projek teori kuantum yang tengah aku kerjakan.
            I’m laughing, I’ve been served all him that he called Masterpiece a hundred times and I’ve been trying to describe them but its like looking for the topic  without a topic sentence nor controlling idea and will never gain a conclusion. Honestly, it is more difficult than my quantum theory project.

            “Come on! garis melambangkan garis, warna melambangkan warna, rasakan beyond description,  yang ada hanyalah reduksi dari sebuah objek konkret.”
       “Come on! a line symbolizes the line, a colour symbolizes the colour, feel beyond description, concrete object reduction is the only one that exist.

            “Hahah”, aku tertawa bagaimana bisa mendiskripsikan tumpukan garis – garis warna ini sebagai senja sementara otak sudah berkali – kali merekam komposisi warna senja sebagai sebuah objek konkret sedemikian rupa.
          “Hahah”, I’m laughing, such an impossible to describe these heap of colours as a twilight while this brain have recorded the colour composition of twilight as the concrete object in such a manner.

            Bagaimana bisa aku mengerti perasaanmu jika kamu selalu menuangkannya dalam hal – hal abstrak yang susah dimengerti.
      How can I understand your feeling if you always express them into the difficult abstract thing.

            “Capek ya ngejar kamu”
            “It is tiring to catch you”

        Gerbong – gerbong kereta api tengah lewat di ujung hamparan pematang sawah ini, membungkam suara yang hanya ingin berbisik.
        Railway wagons are passing in the middle of the farm, silence the voice that wanna whisper only.

            “Ha ? Apa an ?”
            “Ha? What ?”

          “Capek ya ngejar kereta, dia akan terus melaju cepat, lagian dia punya jalur sendiri, gak mungkin kita menariknya atau kita yang berada di dalamnya. Btw, kali ini aku masih butuh dijelaskan tentang maha karyamu.”
            “It is tiring to catch the train, it will be onrushing, train also has its own path so that it’s impossible to take it out or to be there. Btw, this time, i still need the explanation about your masterpiece.”

            Kali ini hamparan sawah sepi, tidak ada jejak yang ditinggalkan kereta, bisingnya pun ikut menghilang mengembalikan keaslian seruling gesekan batang padi dan kicauan burung kuntul.
            At this moment, the farm is in its quite, there’s nothing left by the train, its noise had gone reflate the sound of the rubbing paddies  and herons.

         “Gini deh An, jangan liat objek senja yang konkret tapi  temukan esensinya. Ini itu sama kayak teori kuantum yang ada di buku fisika lo ini nih. Keutuhan senja, matahari yang tenggelam di laut bisa kita lihat sehari – hari, bagaimana komposisinya yang teratur, gradasi  warna, hamparan laut biru dengan setengah lingkaran warna orange di atas garisnya. Itulah keutuhan. Tapi lukisanku ini, aku mencoba menguraikan dari bentuk keutuhannya yang asli, di mana setiap satu goresan garis biru merupakan penyusun hamparan lautan dan setiap satu titik orange merupakan penyusun terkecil dari matahari.”.
      “Listen, don’t look at the concrete object of twilight but find the essence. Its like a quantum theory in your physic book. The concrete object of twilight, its sunset, how is the ordered composition, colours gradation, blue ocean with orange semicircular on the line. Those are the concrete one but not my painting. I try to escape from the concrete one where a blue line as the composer of sea and an orange line as the composer of the sun.”.

      “Oke, jadi kamu mencoba melukis dari  unsur – unsur  terkecil, bursa kuantum dari keutuhan sebuah objek. Saat ini objekmu adalah senja, tapi kamu melukis bentuknya menjadi sesederhana mungkin. Kuantum senja.”
            “Okay, so you try to paint from the most litle substance, a quantum from the concrete objeck. This time, your object is twilight, then you paint it as simple as possible. The twilight quantum.”

       “God, finally you got the point. Oke, let’s named it kuantum senja.”
       “God, finally you got the point. Oke, let’s named it Twilight Quantum”

      “Tapi, kenapa harus ada warna ungu dan sepertinya aku melihat segumpal awan biru di sini”.  Aku menunjuk warna biru yang menggumpal di tengah tengah goresan merah dan orange.
       “But, why is there any purple colour and i think i see a clod of blue cloud here .” I point the blue colour that is cloded in the midle of red and orange scratch.         
            
     “Begini, lukisan ini subjektif, bukan hanya ada unsur – unsur terkecil senja tapi juga ada sebersit perasaan saat aku melukisnya. That’s the gist, if you can feel it.”
      “Listen, this painting is subjective, there’s not only the most litle substance but a burst of feeling when i drew it. That’s the gist, if you can feel it.”

    “Oke”. Aku mengangguk, menandakan bahwa kali ini aku mengerti. Aku mengamati keseluruhan kanvas yang tak lagi polos baru kali ini aku sedikit mengerti dengan caranya merelasikan dengan hal  yang aku tahu.
      “Uhuh”. I nood as a sign that now I understand. I observe all side of the canvas that not plain anymore. I understand by his way to relate with something i know well.

    “Btw, tentang keretamu. Bagaimana jika sebenarnya kamu sedang tidak mengejarnya melainkan dia yang berusaha mengejarmu ? Bagaimana jika selama ini yang kamu lihat hanyalah bayangannya ? Bagaimana jika kalian hanya berlari di sebuah lintasan berbentuk lingkaran ?”
        “Btw, about your train. What if actually you are not chasing it but the other way ? What if actually you just see its shadow ? What if actually both of you just run in a race circuit ?”

     “itu artinya kalian tidak akan pernah tahu siapa yang mengejar dan dikejar.”  Aku bersuara tapi suaraku mengambang, seperti meraba – meraba mencari sesuatu yang bisa menunjukkan makna nyata.
       “It means that you’ll never know exactly who is chasing and chased.” I have a voice but its like gone somewhere, groping, looking for something that can shows the real meaning.
           
  “Lagian, mengejar kereta tidak selelah mendeskripsikan bentuk awan.”. Train berkata sambil menengadahkan kepalanya menghadap bentangan langit yang menanungi pematang sawah kami.
      “Moreover, chasing train is not as tiring as describing the shape of the cloud.”. Train said as looking up the sky that shaded our fields. 

     “Kenapa dengan mendeskripsikan bentuk awan ?”. Aku mengikutinya, menengadah ke atas, melihat semburat awan yang begitu cerah dan beragam.
      “What’s wrong with describing the shape of the cloud ?”, I follow him looking up the various cloud shape in the bright sky.

      “Lihat awan berbentuk dinosaurus itu, lima detik kemudian dia pasti akan berubah bentuk, mungkin kelinci, bahkan mungkin abstrak. Begitu seterusnya, aku tidak akan pernah bisa berpegang pada satu bentuk saja, awan selalu sulit untuk dideskripsikan. Ke manapun aku berlari, tak peduli seberapa cepat, aku tidak mungkin menangkap awan, dia akan tetap berada di atas sana di luar jangkauan dengan wujud berbeda yang tak pernahbisa ditebak sebelumnya. Kamu tau seberapa lelahnya ?”, dia berkata sambil tetap memandang awan.
      “Look at the dinosaur shape, five second later it must be changed, perhaps a hare even abstract.  Continuously, I’ll never hold on just one shape, it is hard to describe. Wherever I run, no matter how fast, I’ll never chase the cloud, It always be there, beyond my scope with new shape that couldn’t be guessed before. Do you know how tiring it is?, he said as still looking up the sky.

      Dia adalah sahabatku, sebut saja Train dan namaku adalah Awan. Itu  adalah sebuah percakapan kecil yang tak berujung di antara hamparan sawah.
      He is my bestfriend, let’s called him Train and my name is Cloud. That’s a litle conversation in a cottage that have never had an ending.

                                                                                                                  ~Luss~
*Teori Kuantum : Teori Kuantum (Quantum Theory, QT, QUT) dalam fisika, tenaga atau energi hadir dalam satuan terpisah atau unit diskrit (discrete), sebagai paket energi yang disebut kuantum. Sebagai misal, kuantum dari tenaga cahaya atau energi radiasi elektromagnetik, dinamakan foton (photon), sedangkan dalam konteks tertentu, kuantum dari energi nuklir, dinamakan meson./ bagian dari energi yg tidak dapat dibagi lagi
*Konkret   : nyata; benar - benar ada (berwujud, dapat dilihat, diraba, dsb)
*Reduksi   : pemotongan, pengurangan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar