Petrichor
Sabtu, 14 Januari 2017
Have you ever suddenly fallen in love when you saw a pict of something or someone? Once, I heard a story from one of my friends in which he felt as if he knew the particular object wholeheartedly at the first time he saw it. As if he met the object after a really long time. A kind of reunion?
And now, I have just fallen in love with a little girl in a particular picture I saw a few days ago. Oh, maybe she's just so cute till the cuteness can win everybody's heart. Well it doesn't matter.
Kamis, 12 Januari 2017
Andaian
Mari berandai-andai saja kali ini.
Gegara 502 Bad Gateaway, Josso, Tomcat di siakad, tetikusku beralih menuju youtube.
Dan mendadak teringat Cooking Master Boy, kartun film jepang bertema masak-masak masa kecil. Baru beberapa episode tetikusku berujung pada apalagi kalau bukan musik indie.
Kalau sudah begini, ada yang terusik.
Baper sama .....
Danilla Riyadi
Istiqomah-Payung Teduh
WSTCC
Ya Tuhan, irinya sama mereka yang sudah punya ruang.
Jadi, inti dari andaianku adalah seandainya diberi satu lagi kesempatan untuk hidup aku ingin menjadi seorang musisi. Itu sudah pasti. hihihi~
Rabu, 04 Januari 2017
Berkendara
Karena hari ini aku baru saja berkendara ditemani hujan, aku jadi mengingat kebiasaan lama yaitu aku senang berkendara. Aku senang diterpa udara. Aku senang melihat pohon-pohon beriringan, atau rumah-rumah yang berjajar, atau lampu-lampu yang bersinar sekelebat, seakan-akan mereka bergerak. Aku senang saat di sisiku banyak orang yang juga berkendara. Satu-satunya pelarian terbaik saat aku butuh sendiri tapi menolak sepi. Aku senang berkendara dan sudah sering terjatuh pula. Mungkin motorku cerminan diriku, banyak beret di sana-sini. Banyak bagian yang patah. Yang lalu-lalu aku senang berkendara tanpa arah ditemani angin, lampu, pohon, dan orang-orang lain yang juga berkendara. Pernah dipenghujung senja sepulang dari tempat itu aku berkendara ke mana-mana, tak ingin segera pulang. Tak ingin buru-buru menuju goa persembunyianku. Waktu itu, meski aku butuh sendiri aku tak kuasa jikalau menyulam sepi. Maka, aku pilih berkendara di temani banyak orang asing yang selalu ada tanpa memperdulikanku membuang asa di setiap air mata. Benar-benar cara terbaik melegakan rasa, tanpa banyak bicara, tanpa mendengar kata. Namun, terkadang takut juga karena saking seringnya terjatuh. Pernah di rel kereta tepat ketika palangnya menutup. Untung saja ada bocah-bocah kecil itu. Ah, aku tidak sempat kembali untuk berterimakasih akibat trauma beberapa hari. Hew. Semenjak saat itu, aku berjanji saat tak kuasa lagi berkendara aku akan menepi lalu menata hati sebelum melanjutkannya kembali, karena untuk menghilangkan kebiasaanku berkendara, aku tidak bisa. Aku senang berkendara. Cara terbaik untuk sendiri tapi menolak sepi. Sudah, aku hanya ingin mengenang saja. Bukankah tidak ada yang lebih baik dari mengenang tanpa pretensi apa-apa. (luss)
Selasa, 03 Januari 2017
hari ini, temanku berkata ada bintang. Katanya langitnya hanya berhiaskan satu bulan dan dua bintang di dekatnya yang menyala terang. Tapi sayangnya saat aku keluar dan menatap langit, semuanya terlihat gelap. Langitku mendung. Lalu, aku kembali masuk rumah dengan sedikit kecewa karena seandainya saja aku bisa melihat hiasan langit yang sama mungkin aku bisa sedikit bernostalgia. Aku tidak berniat kembali ke cerita lalu, sungguh. Aku hanya merindu bulan dan dua bintang yang sama seperti di hari itu. Tapi untuk sekedar begitu sepertinya semesta tak mengijinkanku. Menyebalkan haha. Tapi ada benarnya juga.
Minggu, 01 Januari 2017
1117
So, i'll wrap everything in a little perfect box then hide it in the ocean. For one day will be found or hidden forever. So, this is goodbye. (luss) -1117-
Sabtu, 31 Desember 2016
#5 Mari Bercerita
Mari
bercerita. Aku sedang ingin bercerita tentang kata ‘pertama’. Seperti saat
pertama aku meresapi bau hujan, mendengar nada-nada bertautan, mengamati bentuk
awan, atau pertama kali aku benar-benar menghayati warna senja. Aku masih mengingatnya,
menyimpannya dengan rapi di sudut-sudut ruang kosong yang tersisa, di
kolong-kolong tempat deadline harian tengah antre tertidur, di laci-laci yang
belum sempat disusupi rutinitas, di tabung lubang gitar yang seharusnya kosong,
juga kutitipkan pada udara yang menyusup di lubang seruling, di celah-celah rak
buku atau bahkan di rongga busa sabun mandi.
Dan
akhir-akhir ini aku merasa sesak. Tak ada lagi ruang kosong, semua celah tlah dihuni
oleh kata ‘pertama’. Pernah aku bertanya, adakah pertama untuk kali kedua? Berkali-kali
aku bertanya dan ‘tidak’ tetap menjadi jawabnya. Tidak ada pertama untuk kali
kedua, ketiga, keempat; tidak ada pertama untuk kesekian kalinya. Lalu, betapa hujan,
betapa awan, nada, dan senja pertama menjadi sesuatu yang begitu istimewa. Itulah mengapa aku menyimpannya, sesekali
merapikan jikalau ingatan tentang ‘pertama’ mulai menguar, sesekali mewarnanya
jikalau memudar, lalu mulai menutup pintu-pintu keluar, menahannya agar tak ke
mana-mana.
Akhir-akhir
ini semakin sesak saja. Segala yang ‘pertama’ ada di mana-mana. Ada di udara
saat aku menarik napas, ada di sela-sela buku yang kubaca, ada saat aku
berkaca, ada saat aku membunyikan nada.
Dan lalu, untuk apa? Untuk apa menjaganya tetap ada sementara sesaknya
menyiksa? Maka sebelum tergelagap mati pengap, kubuka separo pintu, menyilakannya
berlalu tanpa tergugu, pilu. Membebaskan mereka pergi bersama udara yang
berganti.
Sore
ini, kaca jendelaku diketok-ketok oleh rintik hujan yang deras sekejap lalu
reda, menyisakan aromanya yang khas saat
awan mendung mulai digantikan arakan awan putih, sinar matahari menyembul di
sela-selanya sekejap lalu tenggelam di antara awan yang mengguratkan warna-warna
senja. Sekilas, semuanya nampak sama. Hujan, awan, senja.Tapi pertama kali aku
menyesapi aroma hujan terasa berbeda. Tapi pernah aku mengamati bentuk awan dan
tak serupa. Pernah aku menghayati guratan senja dengan komposisi warna yang
berbeda.
Dan
lalu, jika beda selalu ada, memang tidak akan ada pertama untuk kali kedua. Lalu
jika beda selalu ada bukankah segala sesuatunya adalah yang pertama? Aku pernah
melihat hujan dan bukan seperti ini. Pernah kusesapi aroma hujan tapi tak
seperti ini. Pernah ku amati bentuk awan tapi tak seperti ini. Dan lalu, ‘seperti
ini’ akan menjelma menjadi yang ‘pertama’. Sama seperti aku pernah jatuh hati
tapi tak seperti ini. Sehingga jika beda selalu ada segala sesuatunya akan
menjadi istimewa ataupun biasa saja. Tergantung memilih yang mana. Bukankah hidup
memang sebuah pilihan.
Dan
pilihanku jatuh pada istimewa. (luss)
Langganan:
Postingan (Atom)